Relief Penari dan Pemusik di Candi Prambanan

Candi Prambanan merupakan salah satu objek destinasi wisata utama. Destinasi warisan budaya yang telah diakui dunia ini banyak sekali menyimpan pembelajran yang bisa digalai untuk menambah pengetahuan masyarakat luas.

Mengunjungi situs warisan budaya, wisatawan semestinya dapat menghubungkan kondisi saat ini dengan masa lalu. Dengan memahami masa lalu melalui warisan budaya, banyak hal yang dapat dilakukan untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

Salah satu yang perlu diketahui oleh masyarakat adalah adanya relief pemusik di Candi Prambanan. Letaknya di bawah ratna pagar langkan Candi Siwa dinding luar.

Panel arca penari dan pemusik berjumlah 132 buah disusun berjajar mengelilingi langkan Candi Siwa. Ekspresi penari yang lemah gemulai dan dinamis menampilkan tarian: samabhanga, abhanga, tribhanga, alidha dan patyalidha. Peralatan musik sebagai iringan, antara lain ialah seruling, kecrek, kendang dan kecapi.

Menurut cerita, Candi Prambanan dianggap sebagai tiruan dari Gunung Meru, sebuah tempat dimana dewa-dewi bersemayam. Di tempat suci itu, para dewa hidup dan dihibur oleh penari dan pemusik khayanga. Hal ini seperti yang dituliskan oleh cendekiawan sejarah Stutterheim (1926):

“Kita menemukan gagasan tentang Meru, yakni replika kosmos, terungkap secara sangat jelas dalam Candi loro jonggrang di Prambanan. Di sana kita menemukan secara berturut-turut motif-motif tentang pohon kayangan dan singa di alasnya, para penyanyi, penari dan pemusik kayangan di sepanjang susuran tangga, para penjaga mata angin utama pada kaki bangunan candi, dan akhirnya arca-arca para dewata yang ditempatkan pada relung-relung dan pada bagian dalam candi sedemikian rupa sehingga keseluruhan komposisi itu tak pelak lagi menyiratkan sebuah gunung para dewa.” Tulis Stutterheim.

Sumber: Jordaan, Roy. 2009. Memuji Prambanan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia; KITLV-Jakarta.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan