Puncak Indonesia Tipitaka Chanting 2019 di Candi Borobudur

Ribuan umat Budha Minggu (14/7/2019) memadati lapangan kenari Candi Borobudur, mereka berkumpul dalam rangka Indonesia Tipitaka Chanting 2019. Acara yang digelar sejak hari Jum’at lalu dihadiri lebih dari 1.000 peserta, mereka datang dari berbagai daerah dan mancanegara seperti Thailand, Vietnam, Bangladesh, India, Malaysia, dan Singapura.

Puncak acara Indonesia Tipitaka Chanting 2019 berlangsung di lapangan kenari Candi Borobudur, sebelumnya peserta melakukan prosesi arak-arakan dari Candi Mendut menuju ke Candi Borobudur.

Puncak perayaan Asaha ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo SH, M.Ip, Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Budha Kementerian Agama Republik Indonesia Calyadi SH, MH, Ketua FKUP Jawa Tengah Taslim, Ketua Persatuan Umat Budha Indonesia Ir. Arif Laksono, dan Irjen Pol Budi Setiawan.

Bante Subatamo Mahatera menyampaikan bahwa ketika kegiatan ITC ini ada di Candi Borobudur sangat memungkinkan menarik wisatawan dari berbagai kota, pulau, bahkan negara. Mudah-mudaham kedepan akan semakin lebih baik lagi sehingga mendatangkan wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

“Mudah-mudahan makin kita bisa mengetahui hakikat hidup, hakikat kita berkeluarga antar sesama dan ada persoalan-persoalan kemanusiaan yang musti beres di mulai dari diri kita sendiri, kalaulah perasaan itu bisa kita jaga bersama oh indahnya, tidak akan peduli kamu dari negara mana, tidak akan pernah kita peduli agamamu apa, kita tidak pernah peduli rekening mu berapa besarnya, tapi ketika bertemu maka kita adalah saudara dan kita manusia yang kalau lapar perlu makan, yang kalau di cubit pasti sakit, yang kalau haus harus minum, dengan berbagai baju apapun kita manusia yang bisa punya rasa yang sama. Maka, tentu kedamaian itu, kemanusiaan itu perlu kiranya menjadi catatan kita bersama agar kemudian hidup jauh lebih baik. Kebahagiaan bisa merasuk pada jiwa masing-masing dan kita semua bisa tersenyum lebar”. Terang Ganjar Pranowo.

“Penyelenggaraan ini pun buat saya menjadi sangat menarik, meskipun ini perayaan yang dilaksanakan umat Budha, tapi kesenian-kesenian yang tampil disini, dengan tarian yang sangat indah dari Bali, ada gamelan disana yang juga memberikan dukungan pada acara ini, dan kita bisa tunjukkan bahwa seni budaya kita bisa menjadi media netral untuk kita bisa berkomunikasi antar sesama dengan segala keindahannya. Karena nilai-nilai itu mahal, maka cara merawatnya juga harus spesial, maka saya katakan itulah menjaga perasaan bagian dari merawat kerukunan. Kita memang beda, orang kembar pun tidak sama persis, maka perbedaan itulah yang kita hormati, jangan dicari-cari perbedaannya, karena pasti kita beda. Maka kenapa nilai Bhineka Tunggal Ika itu kita sampaikan, karena pelangi tidak akan indah kalau hanya satu warna”. Lanjut Ganjar.

Calyadi selaku Dirjen Bimbingan Masyarakat Budha mewakili Menteri Agama Luqman Hakim Syarifudin menyampaikan sebagai manusia sudah tentu akan dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan, dengan kekuatan keyakinan kita dapat mengetahui penyebab dan persoalan kehidupan serta bisa dapat diselesaikan dengan baik, untuk dapat menyelesaikan persoalan kehidupan kita harus menjalankan kebajikan sebagai bentuk praktik-praktik kebenaran sejati, harapan saya adalah segala kebajikan yang telah dilakukan akan berbuah kebahagiaan sebagai bekal kita dalam meningkatkan pengabdian kepada tanah air tercinta.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan