Penemuan Candi Prambanan

Pada tahun 1733 M seorang Belanda, bernama C. A. Lons menemukan sebuah candi yang terkubur di kedalaman tanah lebih dari 6 meter. Lons memotret dan segera melaporkan kondisi candi Prambanan kepada pemerintah Hindi Belanda pada waktu itu.

Karena terletak di desa Prambanan, maka candi tersebut dikenal sebagai candi Prambanan. Ada yang menduga bahwa Candi Prambanan dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, Raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya.

Namun, dengan penemuan prasasti çiwagrha karya Rakai Pikatan, tahun 856 Masehi, para arkeolog cenderung mengaitkan Rakai Pikatan dengan pembangunan candi Prambanan. Hal ini diperkuat dengan penjelasan yang detil pada salah satu pasal prasasti tersebut mengenai keseluruhan komplek candi-candi yang ada di Prambanan.

Candi Prambanan tepatnya terletak sekitar 17 kilometer di arah Timur Laut Yogyakarta, arah kota Solo. Candi Prambanan sebenarnya merupakan komplek percandian yang sangat kental dengan budaya Hinduisme dengan candi induk menghadap ke arah Timur. Di bilik utama pada candi induk terdapat arca dewa Siwa, sehingga bisa dikatakan bahwa sebenarnya candi Prambanan merupakan candi Siwa.

Sejak ditemukan kembali pada tahun 1733, candi Prambanan telah berkali-kali mengalami renovasi guna menyelamatkan dari bahaya kehancuran. Diperlukan suatu pengorbanan yang luar biasa dalam merenovasi candi Prambanan ini, terutama pengorbanan uang yang sangat mahal.

Candi Prambanan memang sangat kental dengan budaya Hinduisme, namun candi Prambanan tidak hanya milik umat Hindu atau orang Jawa (jika dikaitkan dengan letak geografisnya) saja. Candi Prambanan dengan segala kekayaan nilai budayanya juga milik kita semua, terutama milik generasi muda Indonesia.

Moertjipto dan Bambang Prasetyo, The çiwa Temple of Prambanan (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 25.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan