Pemeriksaan Kesehatan Gajah di Kawasan Candi Borobudur

Manajemen PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) sudah lama menerima mandat dari pemerintah untuk merawat satwa gajah yang ada. Saat ini, PT TWC Unit Candi Borobudur merawat sebanyak 5 ekor gajah yang terdiri dari 3 ekor gajah betina dan 2 ekor gajah jantan.

Mandat tersebut di laksanakan dengan penuh tanggung jawab, salah satunya adalah menjaga kesehatan dari satwa tersebut. Guna melaksanakan tanggung jawab tersebut, manajemen PT TWC Unit Candi Borobudur bersama drh. Mahmud dan drh. Herry Wijayanto melakukan pemeriksaan terhadap kondisi gajah di kawasan ini, Sabtu (29/06/2019).

Pemeriksaan gajah di dampingi langsung oleh General Manager Borobudur I Gusti Putu Ngurah Sedana dan Manager Administrasi dan Umum Leonardus Adityo Nugroho. Dua dokter yang juga merupakan dosen senior pada Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada ini memeriksa beberapa bagian tubuh gajah guna mengecek dampak dari penggunaan gajah sebagai satwa tunggang di kawasan Candi Borobudur.

"Saat gajah kita naiki, sebenarnya itu tidak mempengaruhi sama sekali dari anatomi tulang punggung gajah itu sendiri, karena beban yang menaiki gajah tidak lebih dari 20% dari berat badan satwa tersebut, dan pelana yang digunakan pun juga terbuat dari rotan yang ringan. Jadi itu sama sekali tidak mempengaruhi bentuk tulang belakang dari gajah tersebut," ujar dokter Herry menjelaskan.

Menurut Herry penggunaan satwa gajah sebagai satwa tunggang bukan merupakan suatu bentuk eksploitasi satwa. Herry meyakini bahwa kondisi gajah di kawasan Candi Borobudur masih sesuai dengan etika pemeliharaan satwa.

"Gajah tunggang bukan merupakan bentuk dari eksploitasi gajah, karena gajah paling tidak harus berjalan kurang lebih 60 km dalam waktu sehari. Manajemen mengakomodir kebutuhan gajak tersebut dengan menggunakannya sebagai gajah tunggang." terang Herry.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan