Mengenal Relief Pertunjukkan Musik Di Candi Borobudur

Objek Warisan Budaya memiliki berbagai keunikan yang dapat digunakan
sebagai sarana pembelajaran bagi para pengunjung. Salah satunya adalah dengan mempelajari kehidupan di masa lalu dengan melihat dengan teliti relief-relief yang terdapat di tubuh candi. Salah satu candi yang banyak merekonstruksi kehidupan masa lalu di reliefnya adalah Candi Borobudur.

Kehidupan sehari-hari peradaban nusantara di masa lalu tidak dapat terlepas dari hiburan. Kemeriahan seni pertunjukan dengan berbagai instrumen pendukungnya diabadikan dalam relief-relief Candi Borobudur. Alat-alat musik petik, tiup, pukul dan gesek telah digunakan masyarakat pada saat itu untuk keperluan pertunjukan maupun upacara. Musik dan instrumennya sebagai hasil karya manusia tidak dapat dilepaskan dari latar belakang budaya masyarakat pada saat itu.

Ada sepuluh panil pada relief cerita Karmawibhangga yang memuat gambaran tentang berbagai instrumen musik (waditra), yaitu panil relief nomor 1, 39, 47, 48, 52, 53, 72, 101, 102, dan 117. Berdasarkan ketegori umum instrumen musik, yang terdiri atas empat jenis (idiophone, membraphone chordophone, dan aerophone), semua jenis ini hadir di relief Karmawibhangga. Dua panil itu, memvisualkan para musisi yang tengah memainkan waditra berdawai (chrodophone).

Salah satu panil menggambarkan dua musisi pria memainkan waditra berdawai. Seorang dalam posisi berdiri sambil memainkan waditra berdawai dengan resonator berbentuk gemuk (oval melan-cip ke atas), leher (neck, stang pengetur nada) lurus panjang. Seorang musisi lain dalam posisi duduk memainkan waditra berdawai dengan resonator berbentuk gemuk (oval melancip ke atas), neck bagian atas serong ke kanan dan ujung atasnya berbentuk gelung.

Selain itu ada musisi yang ketiga, yaitu seorang wanita yang kelihatan tengah memukul simbal berdiameter lebar. Ketiga musisi mengenakan kain panjang bawahan (dodot), bertelanjang dada, dengan rambut bersusun dua. Aksesoris berupa kalung (hara), kelat bahu (keyura), gelang tangan (kankana), jamang dan sumping. Penyajian musik ini dimaksudkan untuk memberikan suasana musikal dalam suatu pertunjukan. Tergambar seorang bangsawan berdiri mengenakan kain panjang sebatas mata kaki, bertelanjang dada, dan bermahkota rambut yang disanggul tinggi bersusun dua (jathamakuta). Aksesori berupa hara, keyura, kankana, binggel, jamang dan sumping, Ia menghadap ke bangsawan lain yang dalam posisi duduk pada suatu pedestal tinggi dengan seorang wanita duduk di belakangnya. Bangsawan yang disebut terakhir juga ber-jathamakuta, beraksesoris keyura, hara, kankana, jamang dan sumping.
Panil lainnya menggambarkan seorang musisi pria dalam posisi duduk bersila memainkan waditra berdawai. Resonator berbentuk langsing, yang mengarah pada bentuk persegi empat panjang, neck pendek, dan jumlah tuning peg dua buah. Kepala musisi hanya berambut pendek tanpa dianggul, berkain panjang bawahan dan tidak mengenakan aksesori. Lingkungan penyajiannya adalah di bawah pohon yang rindang, di lingkungan permukiman luar keraton. Tergambar dua orang perempuan dari lingkungan bangsawan, dan pada sisi lainnya menggambarkan beberapa orang yang tengah terlibat dalam pemberian derma di depan suatu rumah tinggal. Areal yang digambarkan adalah lingkungan di luar keraton, di permukiman rakyat jelata.


Sumber : terakota.id, kebudayaan.kemdikbud.go.id


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan