Memahami Sejarah Maritim Nusantara dari Relief Candi Borobudur

Terdapat sejumlah bukti sejarah yang menunjukkan bahwa pada awal milenium pertama Masehi nenek moyang orang Indonesia telah mampu mengadakan hubungan budaya jarak jauh lewat jalur laut, menyeberangi samudra raya sampai ke benua Afrika. Jejak-jejak kehadiran budaya Nusantara di Madagaskar dan Afrika Selatan masih dapat ditelusuri keberadaannya disana.

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Sudah sejak dahulu kala, nenek moyang bangsa ini mengarungi samudera bak kawan lama. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya Relief berupa kapal bercadik yang terukir di dinding candi Borobdur.

Di candi ini terdapat lima gambar relief perahu layar yang menunjukkan bahwa pada zaman itu telah dikenal perahu dengan layar ganda dan mempunyai cadik (out rigger) untuk menjaga keseimbangan perahu.

Lima panel relief kapal yang terpahat di dinding Candi Borobudur memunculkan spekulasi, Wangsa Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno merupakan pelaut yang tangguh. Jejak dinasti ini terentang dari Sumatera, Malaysia, hingga Thailand.

Bukti kuat raja Wangsa Sailendra sudah berlayar jauh tersurat di Prasasti Ligor bertahun 775 di Thailand selatan. Prasasti itu menyebutkan pembangunan Trisamaya Caitya (bangunan suci) untuk Padmapani, Wajrapani, dan Sakyamuni oleh raja Sailendra bernama Rakai Panangkaran yang disebut sebagai Wairiwirawimardhana (pembunuh musuh-musuh yang gagah berani). Prasasti itu ditemukan di Nakhon Sritammarat, di wihara bernama Vat Sema Muang.

Pada 21 Agustus 1945, armada laut Indonesia dengan persenjataan seadanya berhasil mengalahkan pasukan laut Tentara Jepang. Kemenangan ini kemudian diperingati sebagai Hari Maritim Nasional.

Indonesia sebagai negara kepulauan, telah diakui dunia Internasional melalui Konvensi Hukum Laut PBB ke-3, United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Berdasarkan UNCLOS 1982, total luas wilayah laut Indonesia menjadi 5,9 juta km2, meliputi 3,2 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 km2 perairan Zona Ekonomi Eksklusif, luas perairan ini belum termasuk landas kontinen. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Sudah sepatutnya, Indonesia dengan nilai historis dan kekayaan sumber daya alam berupa lautan luas memandang laut sebagai rumah dan masa depan, cita-cita bersama sebagai bangsa maritim besar. Mari kita jadikan moementum Hari Maritim Nasional ini sebagai tonggak dalam memajukan sektor maritim dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan