Khazanah Tradisi Ilmu Astornomi Nusantara

Ilmu pengetahuan tertua yang telah diterapkan oleh masyarakat jaman dahulu adalah ilmu perbintanga. Ilmu yang saat ini populer dengan sebutan astronomi ini sudah digunakan sebagai petunjuk dalam menentukan arah, ataupun menentukan musim. Mulai dari masyarakat daratan maupun para pengarung lautan telah belajar dan menekuni dunia perbintangan sejak masih dini.

Ilmu perbintangan telah akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memanen, maupun mencari ikan dengan menggunakan petunjuk bintang ataupun rasi bintang ang terlihat.

Orang Jawa dan Melayu mahir menentukan kapan masa tanam dan panen melalui pengetahuan astronomi. Selain guna sosial, ada pula guna personal yang diperoleh dari pengetahuan lokal tentang astronomi. Misalnya untuk menentukan saat baik dalam pembuahan rahim.

Widya Sawitar, staf Planetarium dan Observatorium Jakarta dalam pengamatannya mengatakan bahwa pembangunan Candi Borobudur pada abad ke-8 tidak terlepas dari pengetahuan lokal tentang astronomi..

Peletakan batu pertama Candi Borobudur pun memperhitungkan keberadaan sebuah bintang bernama Polaris (Bintang Utara). Keberadaan Polaris berfungsi untuk menandai arah utara. Melalui keberadaan Polaris, pekerja Borobudur dapat meneruskan tahap pembangunan berikutnya.

”Jadi kalau kita mau mencari tahu bagaimana mengarahkan, atau meletakkan batu pertama candi, ternyata dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal itu merujuk kepada sebuah bintang, Polaris,” kata Widya seperti dikutip dari laman historia.id.

Selain itu, ada penelitian yang menduga kalau stupa induk di Borobudur adalah sebuah gnomonnya dan stupa di sekelilingnya adalah penanda waktu. Cara kerjanya mirip seperti jam matahari. Ada juga yang menyebutnya sebagai kalender tahunan. Selain itu, ada pula yang menghubungkan pada arah bintang-bintang tertentu.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan