Cerita Putri Manohara Pada Candi Borobudur

Candi Borobudur menyimpan banyak cerita yang menarik untuk diikuti. Penjelajahannya pun juga harus benar arahnya, sehingga cerita demi cerita dari tingkat dasar sampai puncak bisa diketahui. Salah satu cerita ialah tentang Manohara, seorang bidadari jelita yang kelak menjadi istri dari Pangeran Sudhana, perwujudan tokoh sentral Buddha.

Cerita Manohara menggambarkan udanakumaravada, yaitu kisah perkawinan Pangeran Sudhana dengan bidadari Manohara. Karena berjasa menyelamatkan seekor naga, seorang pemburu bernama Halaka mendapat hadiah laso dari orang tua naga. Relief Putri Manohara di candi Buddha terbesar di dunia itu menuturkan perlakuan buruk keluarga mertuanya di suatu kerajaan, tempatnya tinggal, yang membuat dirinya pulang ke Kerajaan Manusia Burung. Putri Manohara yang ada di relief deretan bawah, di dinding utama sebelah barat, di lorong lantai dua Candi Borobudur itu digambarkan sebagai putri berwajah cantik dengan dua kaki burung.

Seorang pemburu bernama Halaka, dikisahkan menangkap dengan jaring istimewa manusia burung di suatu permandian. Manusia burung yang tampak cantik itu adalah putri dari Kerajaan Manusia Burung yang bernama Manohara. Seorang pangeran menukar Putri Manohara dengan suatu hadiah melimpah kepada Halaka. Dikisahkan, Manohara hidup bahagia sebagai istri Sang Pangeran. Tetapi, pihak keluarga mertuanya tidak suka dengan Putri Manohara. Ibu mertuanya itu menjadi otak bencana duka bagi kehidupan Putri Manohara itu. Saat Sang Pangeran mendapat tugas berperang melawan musuh di garis terdepan,

Manohara diusirnya dari kerajaan itu. Dia lalu pulang ke kampung halamannya di Kerajaan Manusia Burung, sambil mengusung segala dukanya. Suaminya yang pulang dari medan peperangan sedih karena tidak menjumpai isteri tercintanya di istana. Ia lalu menemui Halaka untuk mencari Manohara. Halaka dikisahkan tidak mengetahui tempat tinggal Putri Manohara. Ia hanya memberitahu Sang Pangeran bahwa dirinya sering menjumpai sekumpulan manusia burung di suatu telaga. Pangeran pun kemudian mencari Putri Manohara di telaga itu. Dia hanya menemukan beberapa manusia burung dan tidak ada Manohara di tempat itu. Ia kemudian menitipkan sebuah cincin perkawinannya kepada salah seorang di antara sejumlah manusia burung untuk disampaikan kepada Putri Manohara.

Kisah Putri Manohara dikenal di negara-negara dengan penduduk mayoritas pemeluk Buddha seperti India, Tibet, Thailand, dan di Candi Borobudur yang dibangun di antara Kali Elo dengan Progo, Kabupaten Magelang, sekitar abad ke-8 masa Dinasti Syailendra itu. Kisah Putri Manohara adalah pelajaran hidup berkeluarga. Hidup berpasangan suami istri tentu harus didasari saling cinta yang sejati.

 

Sumber: Kompas.com, Tribunnews.com

 


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan