Candi Prambanan Dalam Pencarian Garuda

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia versi UNESCO. Candi Prambanan ini dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, pada masa kerajaan Medang Mataram.

Candi ini dibangun sebagai persembahan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu, yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.

Cerita sejarah pembuatan Candi Prambanan menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan. Namun, tahukah Sahabat Wisata bahwa Candi Prambanan juga memiliki cerita sejarah terkait proses lahirnya lambang Negara Garuda Pancasila?

Sehubungan dengan itu, pemerintah membentuk Panitia Indonesia Raya. Panitia ini diberi tugas untuk meneliti pola dan lambang dalam peradaban Indonesia. PPKI meminta Panitia untuk mengusulkan satu lambang sebagai simbol negara baru, Republik Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara ditunjuk menjadi Ketua Panitia, sedangkan Muhammad Yamin ditunjuk menjadi Sekretaris Panitia. Bersama Ki Hadjar, Yamin menelusuri situs-situs purbakala dan mempelajari kesusastraan kuno di beberapa wilayah Indonesia.
Dari penelusuran, ditemukan sosok burung garuda yang di dalam berbagai mitologi disebut sebagai burung penjaga negara.

Beberapa candi yang dijadikan rujukan itu adalah Candi Prambanan, Sojiwan, Mendut, Penataran, Belahan, Sukuh dan Cetho. Di Jawa dan Bali, figur Garuda digambarkan melambangkan kabajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan dan disiplin.

Sebagai kendaraan Dewa Wisnu, ia diyakini pula memiliki sifat-sifat tuannya. Yakni sebagai pemelihara dan penjaga alam semesta.

Dalam periode sejarah klasik Indonesia, banyak kerajaan-kerajaan pun menggunakan sosok Garuda sebagai lambang kerajaannya.

Sebagai kelanjutan kerja Panitia Indonesia Raya, secara resmi 10 Januari Hamid II, selaku Menteri Negara Zonder Portofolio Kabinet RIS meneruskan upaya panitia sebelum. Pada rapat Kabinet RIS, 10 Januari 1950, dibentuk panitia teknis dengan nama Panitia Lencana Negara. Menteri pada Kabinet RIS, Sultan Hamid II, diberi mandat untuk menuntaskan proses merancang dan memilih lambang negara.

Panitia ini ditugasi untuk menyeleksi usulan-usulan rancangan lambang negara yang akan dipilih serta diajukan kepada pemerintah RIS. Panitia ini diketuai oleh Prof. Mr. Mohammad Yamin, dan dibantu oleh beberapa anggota. Yaitu; Ki Hajar Dewantara, M.A. Pallupessy, Muhammad Natsir, dan Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka.

Proses perancangan dilalui tahap demi tahap. Hingga pada 11 Februari 1950 menghasilkan kesepakatan bersama sebuah rancangan lambang negara. Berbentuk Elang (gundul) mencengkeram pita putih bertulis sesanti Bhinneka Tunggal Ika namun dengan posisi cakar terbalik.

Presiden Soekarno memperkenalkan untuk pertama kalinya pada tanggal 15 Februari 1950 lambang negara tersebut di Hotel des Indes Jakarta. Kemudian 20 Februari 1950 diresmikan pemasangannya di ruang sidang parlemen RIS oleh presiden Soekarno.

Namun, desain tersebut masih menuai pro kontra di kalangan anggota Parlemen. Karena kedekatan bentuk kepalanya dengan elang lambang Amerika. Akhirnya, gambar lambang negara diperbaiki oleh Dirk Ruhl Jr. Dirk Ruhl mengubah arah cakar dan memberi jambul yang mengacu pada burung elang rajawali endemik Indonesia.

Presiden Soekarno menyetujui dan memberikan desposisi pada Sultan Hamid II tertanggal 20 Maret 1950. Lalu memerintahkan Dullah (pelukis istana) untuk menggambar ulang gambar tersebut.

*Berbagai sumber

 

Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan