Belajar Cara Nenek Moyang Bertahan Hidup di Ratu Boko

Situs Ratu Boko ternyata menyimpan bukti kejeniusan leluhur kita di masa lalu. Letaknya yang berada di atas sebuah bukit setinggi 196 meter dari permukaan laut rupanya memiliki buktinya.

Hidup di lingkungan yang tandus membuat nenek moyang kita harus cerdas menyiasati tantangan kekurangan air. Dari keterbatasan tersebut, kreativitas dalam memanfaatkan alam sekitar mengalir deras. Salah satu solusinya adalah dengan menggali batuan induk dan memahatnya sedemikian rupa sehingga menjadi kolam-kolam tadah hujan.

Tidak hanya mengajarkan cara menampung air, para pendahulu telah bijak dalam mengelola air saat musim hujan. Di Situs Ratu Boko dapat dilihat bagaimana cara menghemat air dengan cara menghubungkan kolam satu dengan lainnya melalui saluran-saluran air.

Jadi Apabila air hujan yang tertampung di kolam yang berkedudukan lebih tinggi meluap, maka luapannya itu akan dialirkan melalui saluran penghubung ke kolam yang letaknya lebih rendah. Air yang ditampung ini lalu dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan minum, masak, dan mandi, serta ritual keagamaan.

Keraton Ratu Boko berada di wilayah kerja BPCB DIY dan dikelola oleh sebuah BUMN bernama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, yang juga mengelola Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Keraton kuno ini dapat dicapai dari kota Yogyakarta selama 18 menit perjalanan dengan menggunana kendaraan roda empat. Mari saksikan sendiri kejeniusan leluhur kita di Keraton Ratu Boko!


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan