Asal-usul dan Jejak Kata “Borobudur”

Nama Borobudur sebagai ‘nama asli’ untuk candi yang terletak di Kab. Magelang (Jawa Tengah) ini masih menyimpan banyak penafsiran. Umumnya, nama-nama candi yang dikenal di Indonesia kebanyakan memang “bukan” nama asli atau nama yang dahulu diberikan.

Kurangnya sumber informasi yang sampai ke tangan para arkeolog, dimungkinkan candi-candi yang sekarang kita kenal, untuk penamaannya biasanya diambil dari nama wilayah atau tempat ditemukannya, beberapa nama mengambil fenomena yang terlihat, dan ada juga bersumber pada tradisi masyarakat setempat.

Salah satu pendapat menyatakan asal usul nama candi Borobudur berasal dari kata bhudara (gunung). Pendapat lain yang menyinggung letak candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu bara/vihara dan beduhur. Borobudur berarti biara di atas bukit atau biara yang terletak di tempat tinggi.

Kata “biara di Budur” lebih jauh terdapat dalam kakawin karya Mpu Prapanca yang terkenal, Nagarakretagama (1365 Masehi).

Apakah yang dimaksud prapanca adalah candi Borobudur? Sejauh ini belum banyak buktinya, karena hampir dipastikan banyak candi-candi lainnya yang dibangun di atas bukit.

Babad Tanah Jawi yang diperkirakan ditulis awal abad ke-18, menyebut Borobudur dalam kaitannya sebagai wilayah tempat terjadinya persitiwa pemberontakan.

Borobudur sebagai nama candi seperti yang kita kenal saat ini, dipopulerkan oleh Raffles (1817) dalam bukunya “The History of Java” konon mengacu pada nama wilayah sekitar di mana candi ini berdiri, yaitu desa Boro/Bore. Sementara istilah Budur, dimaknainya “purba”.

J.G. de Casparis (1950) beranggapan bahwa kata “Budur” diambil dari istilah bhudhara yang dimaknai sebagai “gunung”. Pernyataan tersebut didasarkan pada prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan yang memberikan informasi tentang penganugerahan wilayah sima (tanah bebas pajak) oleh Pramudawardhani untuk memelihara Kamulan, Bhumisambhara.

Sumber: wacana.co


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan