Kamis, 24 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Untuk informasi seputar vaksin dan imunisasi dapat diakses di Facebook : Info Imunisasi; Twitter : @infoimunisasi dan www.infoimunisasi.com

Prestasi

Bio Farma Raih Penghargaan Hak Kekayaan Intelektual

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

Apakah Anda mengetahui informasi mengenai vaksin pentavalent?

View Results

Loading ... Loading ...

BIO FARMA AKAN PRODUKSI VAKSIN POLIO SUNTIK

26 September 2008

“Saat ini tengah dilakukan proses pengembangan teknologinya, diharapkan mulai 2011 sudah bisa diproduksi dan 2013 sudah bisa memenuhi seluruh kebutuhan vaksin itu baik dalam negeri maupun ekspor,” kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Bio Farma, Iskandar di Bandung, Minggu.

Untuk merealisasikan produksi vaksin Sabine IPV itu, Bio Farma bekerjasama dengan pihak Japan Poliomyelitis Research (JPR) mulai 2008 ini.

Vaksin Sabine IPV itu diproyeksikan untuk menggantikan vaksin polio oral atau tetes yang saat ini masih digunakan di Indonesia dan beberapa negara lainnya di dunia.

Menurut Iskandar, dengan diproduksinya vaksin Sabine IPV, maka PT Bio Farma akan menghentikan produksi vaksin polio oral pada 2012.

“Sehingga diharapkan pada 2013 seluruh kebutuhan vaksin polio di Indonesia dan ekspor sepenuhnya memakai Sabine IPV,” katanya.

Vaksin polio suntik atau Sabine IPV itu memiliki karakter berbeda dengan vaksin oral atau tetes. Vaksin tetes selama ini diproduksi dalam bentuk vaksin polio hidup sedangkan Sabine dalam bentuk vaksin polio mati.

“Ditargetkan 2013 Bio Farma bisa memproduksi 1,5 miliar dosis Sabine IPV,” katanya.

Ia menyebutkan, selama ini vaksin polio Bio Farma dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan vaksin polio di dalam negeri dan diekspor ke India atau melalui UNICEF.

“India negara terbesar pengimpor vaksin polio, sekitar 35 persen ekspor bulk (bahan baku vaksin polio) diekspor ke India, sisanya diekspor lewat UNICEF,” katanya.

Untuk research dan pengembangan prosuksi vaksin itu, PT Bio Farma menyiapkan anggaran sekitar Rp300 miliar. PT Bio Farma sendiri dibebaskan untuk membayar deviden kepada pemerintah yang alokasinya diarahkan untuk keperluan reseach untuk menemukan produk vaksin baru.

“Bio Farma ditargetkan mampu menemukan produk minimal satu vaksin setahun,” kata Iskandar.

Meski fokus pada pengembangan vaksin Sabine IPV, PT Bio Farma juga terus mengembangkan produksi vaksin flu burung untuk manusia.

Reserch dan pengembangan produksi faksin flu burung menurut Iskandar lebih mahal ketimbang biaya pengembangan vaksin Sabine IPV.

“Pemerintah sangah konsen mengatasi pandemik flu burung, kita juga berusaha maksimal melakukan research dan pengembangan vaksin flu burung untuk manusia,” katanya. (ANTARA :
Syarif Abdullah)

Source :Antara



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>