Bio Farma Kembangkan 7 Vaksin Baru<!--:-->

BANDUNG - Produsen vaksin nasional PT Bio Farma (Persero) intensif melakukan riset dan pengembangan tujuh jenis vaksin baru yang akan diproduksi untuk memenuhi tuntutan pasar di dalam maupun luar negeri. "Riset dan pengembangan vaksin dilakukan dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Sedikitnya tujuh vaksin sudah memasuki tahapan riset dan pengembangan, salah satunya vaksin Penta Valent siap diproduksi masal akhir 2012," kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Bio Farma Elvyn Fajrul Jayasaputra di Bandung, Selasa. Menurut Elvyn, ketujuh vaksi yang tengah dikembangkan itu adalah vaksin Penta Valent yang merupakan gabungan lima vaksin yakni disentri, tetanus, pertusis, hepatitis B dan Hib. Empat vaksin lainnya yang tengah dalan pengembangan dan tahap pengujian adalah vaksin rotavirus, Sabine Inactived Volio Vacine (IVP), New TB vacine, A pertusis dengan sistem 'cold chain', vaksin imono kontrasepsi untuk program Keluarga Berencana (KB) dan vaksin anti diabets. "Progres pengembangan semua vaksin itu cukup bagus dan hasilnya positif. Penta Valent saat ini sudah mencapai pengujian tahap ketiga, sedangkan rotavitus saat ini masih dalam uji di laboratorium WHO, yang lainnya juga sangat menjanjikan," kata Elvyn. Produk-produk vaksin yang dikembangkan BUMN farmasi satu-satunya yang bergerak di industri vaksin itu merupakan vaksin yang dibutuhkan pasar dunia. Bahkan rotavirus saat ini sangat ditunggu-tunggu dunia. Bila vaksin Penta Valent sudah bisa diproduksi massal akhir 2012, rotavirus untuk mencegah diare pada balita diperkirakan sudah bisa diproduksi pada 2015," katanya. Khusus untuk vaksin Penta Valent, kata Elvyn, dipastikan lebih efektif dan lebih murah. Selama ini kelima vaksin itu dilakukan secara terpisah, namun dengan vaksin baru itu bisa dilakukan dengan sekali suntikan. "Penta Valent penggunaanya lebih efektif, irit biaya, peralatan yang digunakan juga bisa hemat. Namun harganya memang lebih mahal, namun efektif karena hanya dilakukan sekali suntik. Pasarnya sangat potensial," katanya seperti dikutip Antara. Terkait peralihan jenis vaksin polio dari sistem tetes ke sistem injeksi, menurut Elvyn pihaknya telah melakukan tranformasi produksi, meski belum diproduksi secara masal. Transformasi atau peralihan dari sistem tetes ke injeksi, membutuhkan perubahan sistem produksi termasuk campurannya berbeda. "Tahun 2015 pemberian vaksin polio harus dilakukan dengan cara injeksi, namun bukan berarti vaksin tetes yang ditelan saat ini tidak bagus. Vaksin itu tetap efektif dan buktinya tingkat serangan polio di kawasan sudah berhasil diatasi," katanya menambahkan. (tk) Link : http://www.investor.co.id/home/bio-farma-kembangkan-7-vaksin-baru/33650

Kategori Kegiatan