Rota Pembunuh Utama Balita<!--:-->

Penulis: YUNI IKAWATI Penyakit diare di Indonesia hingga kini masih teratas sebagai penyebab kematian bayi dan anak di bawah lima tahun. Di antara berbagai pemicu diare, rotavirus alias virus rota yang paling berbahaya dan mematikan. Vaksinasi menjadi pilihan untuk mengatasi. Diarrheal diseases caused by rota virus contagious and easily infect so can not be ignored. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) United States noted, there were 10,080 deaths last year due to rota viral disease in Indonesia.

These data correlate with the level of deaths from diarrhea, which according to the Ministry of Health upon the highest infant and toddlers. Data from 2007 showed that 31.4 percent of infants and 25.2 percent of children under five die from diarrhea.

The second leading cause of death was pneumonia that age group. Instead, the world-according to the journal Lancet, diarrhea is a killer of children under five second after pneumonia.

In addition to the high mortality, which need to be considered are recurrence and poor quality of life of children pascadiare. Almost all children in the world has experienced at least once a rota virus infection at age 3-5 years. The first infection after age 3 months generally most severe and repeated infections can occur at any time, so Attila Dewanti, a pediatrician from UB Women & Children Hospital, explained in a talk show hosted hospital with Mom n Jo, Saturday (21 / 1) , in Jakarta.

Constraints

The nature and pattern of spread of the virus rota, poor environmental sanitation, and inadequate health care are some of the factors causing these cases continue to rise.

Rota virus-infected children can spend up to 100 billion viruses per gram of stool. In fact, it only takes 10 virus to infect another child.

This virus can survive on hands for hours, on solid surfaces for days, and remains stable and infective in feces for a week. Transmission of this virus through the hands, toys, food, and contaminated water. This virus is usually spread in the winter or rainy and incubate for 1-4 days.

Children aged under five are the most vulnerable groups. To prevent, to the formation of immunity from an early age, even when the baby in the womb.

Immunity developed through adequate intake of nutrients from the mother during pregnancy to lactation, the application of a healthy lifestyle, and vaccination schedule, an obstetrician gynecologist, UF Bagazi, outlines.

According to Attila, many factors that encourage the provision of vaccines to infants and young children in Indonesia to prevent diarrhea caused by rota virus. Lack of nutrition in infants and young children in Indonesia generally means they will not have optimum endurance.

When they contracted the virus rota, will appear symptoms of fever, severe diarrhea and vomiting a lot, to prevent dehydration. Because children often vomit, parents have difficulty providing oral rehydration solution at home.

Therefore, children need to be given fluids intravenously and treatment in a hospital or clinic in order not to be fatal. One of 70 children with viral infections is undergoing treatment in hospital.

Unfortunately, treatment services are not always available in the area and often not affordable by the poor. This causes the patient untreated children and died.

There is currently no cure for rota virus infection. Treatment was limited to prevent dehydration with rehydration therapy.

Vaccination

Considering the various problems that exist, vaccination be one solution. Prevention efforts are relatively cheaper than treatment. Vaccination program is recommended Indonesian Pediatric Association (IDAI) to be implemented in Indonesia.

"This virus vaccine has been recommended by IDAI to be given to infants and children under five in Indonesia," said Attila.

With the release of that recommendation, children aged 0 to 18 years received a total of 14 types of vaccines.

Recommendations rota virus and pneumonia vaccination IDAI issued in June last year. The implementation of vaccination is based on numerous and rapid virus infecting toddlers and preschoolers.

Rota virus vaccine can be given as early as possible. IDAI recommend giving the first dose in infants aged two months. Vaccinations are given three times. To follow-up at age 4 months and 6 months.

According to the CDC, rotavirus vaccine is highly effective, ie 85 to 98 percent in preventing rotavirus disease in infants and toddlers. In addition, this vaccine is also able to substantially reduce morbidity and mortality from this disease in Asia.

link: http://health.kompas.com/read/2012/01/24/07311977/Rota.Pembunuh.Utama.Balita

Penyakit diare akibat virus rota cepat menular dan mudah menginfeksi sehingga tidak dapat diabaikan. Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mencatat, ada 10.080 kematian tahun lalu akibat penyakit virus rota di Indonesia. Data ini berkorelasi dengan tingkat kematian akibat diare, yang menurut Kementerian Kesehatan tertinggi menimpa bayi dan anak balita. Data tahun 2007 menunjukkan, 31,4 persen bayi dan 25,2 persen anak balita meninggal karena diare. Penyebab kedua kematian kelompok usia itu adalah pneumonia. Sebaliknya, di dunia— menurut jurnal Lancet—diare merupakan pembunuh anak balita kedua setelah pneumonia. Selain tingginya kematian, yang perlu diperhatikan adalah kekambuhan dan rendahnya kualitas hidup anak pascadiare. Hampir semua anak di dunia pernah mengalami setidaknya sekali infeksi virus rota saat berusia 3-5 tahun. Infeksi pertama setelah usia 3 bulan umumnya paling parah dan infeksi ulangan dapat terjadi kapan saja, demikian Attila Dewanti, dokter spesialis anak dari Brawijaya Women & Children Hospital, memaparkan dalam talkshow yang diselenggarakan rumah sakit itu bersama Mom n Jo, Sabtu (21/1), di Jakarta. Kendala Sifat dan pola penyebaran virus rota, sanitasi lingkungan yang buruk, dan layanan kesehatan tak memadai adalah beberapa faktor penyebab kasus ini terus meningkat. Anak yang terinfeksi virus rota dapat mengeluarkan hingga 100 miliar virus dalam setiap gram tinjanya. Padahal, hanya dibutuhkan 10 virus untuk menginfeksi seorang anak lain. Virus ini dapat bertahan hidup di tangan berjam-jam, di permukaan padat berhari-hari, serta tetap stabil dan infektif dalam tinja selama seminggu. Penularan virus ini melalui tangan, mainan, makanan, dan air yang tercemar. Biasanya virus ini merebak pada musim dingin atau hujan dan berinkubasi selama 1-4 hari. Anak usia balita merupakan kelompok paling rentan. Untuk mencegah, perlu pembentukan kekebalan sejak dini, bahkan ketika bayi dalam kandungan. Kekebalan tubuh terbangun melalui asupan nutrisi memadai mulai dari saat ibu hamil hingga menyusui, penerapan pola hidup sehat, dan pemberian vaksinasi sesuai jadwal, dokter spesialis obstetri ginekologi, UF Bagazi, menguraikan. Menurut Attila, banyak faktor yang mendorong pemberian vaksin kepada bayi dan anak balita di Indonesia untuk mencegah diare akibat virus rota. Kurangnya asupan gizi pada bayi dan anak balita umumnya di Indonesia membuat mereka tak punya daya tahan tubuh optimal. Ketika mereka terjangkiti virus rota, akan muncul gejala demam, diare hebat dan banyak muntah, hingga terjadi dehidrasi. Karena anak sering muntah, orangtua mengalami kesulitan memberikan cairan rehidrasi oral di rumah. Karena itu, anak perlu diberi cairan lewat infus dan perawatan di rumah sakit atau puskesmas agar tidak berakibat fatal. Satu dari 70 anak dengan infeksi virus ini menjalani perawatan di rumah sakit. Sayangnya, layanan pengobatan tidak selalu ada di daerah dan sering tak terjangkau oleh masyarakat kurang mampu. Hal ini menyebabkan pasien anak tak tertangani dan meninggal. Saat ini tidak ada obat untuk infeksi virus rota. Pengobatan hanya sebatas mencegah dehidrasi dengan terapi rehidrasi. Vaksinasi Melihat berbagai masalah yang ada, vaksinasi menjadi salah satu solusi. Upaya pencegahan ini relatif lebih murah dibandingkan pengobatan. Program vaksinasi ini direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk dilaksanakan di Indonesia. ”Vaksin virus ini telah direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan kepada bayi dan anak balita di Indonesia,” kata Attila. Dengan keluarnya rekomendasi itu, anak umur 0 hingga 18 tahun total mendapat 14 jenis vaksin. Rekomendasi vaksinasi virus rota dan pneumonia dikeluarkan IDAI Juni tahun lalu. Pemberlakuan vaksinasi ini didasari banyak dan cepatnya virus tersebut menginfeksi anak balita dan anak prasekolah. Vaksin virus rota dapat diberikan sedini mungkin. IDAI merekomendasikan pemberian dosis pertama pada bayi usia dua bulan. Vaksinasi diberikan tiga kali. Untuk lanjutannya pada usia 4 bulan dan 6 bulan. Menurut CDC, vaksin rotavirus sangat efektif, yaitu 85 hingga 98 persen dalam mencegah penyakit rotavirus pada bayi dan anak balita. Selain itu, vaksin ini juga mampu secara substansial menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini di Asia. link : http://health.kompas.com/read/2012/01/24/07311977/Rota.Pembunuh.Utama.Balita sumber foto : google

Kategori Galery