Pentavalen, Vaksin Masa Depan

Upaya PT. Biofarma (Persero) memproduksi vaksin pentavalen diyakini bentuk reformasi imunisasi di Indonesia. Selain menggabungkan enam vaksin dasar, produk ini juga menjadi bagian program imunisasi masa depan yang lebih efisien.

Mulai diedarkan PT Bio Farma pada 2013, vaksin pentavalen merupakan gabungan dari enam vaksin dasar yaitu difteri, polio, pertusis, tetanus, hepatitis B, sertahib (haemophylusinfluenza tybe B). Dengan pentavalen, bayi yang awalnya harus menjalani sembilan kali suntik vaksin DPT, HB, dan Hib, kini disederhanakan hanya menjadi tiga kali suntik.

Langkah Bio Farma memproduksi vaksin pentavalen mampu mengefisienkan proses imunisasi hanya menjadi enam kali kunjungan ke puskesmas. Terobosan itu dinilai tepat di tengah minimnya kesadaran masyarakat melakukan imunisasi terhadap anak. Dikutip dari laman Departemen Kesehatan RI, hingga saat ini diperkirakan ada 22juta bayi di dunia yang belum mendapat imunisasi lengkap. Dari jumlah bayi itu, sekitar 9,5 juta bayi ada di Asia Tenggara.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat Alma Lucyati, kendati imunisasi pentavalen di Jawa Barat baru di mulai pada Agustus 2013, namun respons masyarakat atas program imunisasi ini cukup menggembirakan. Keberhasilan itu bisa dilihat dari cakupan imunisasi pentavalen hingga Juli yang rata-rata di atas target.

Pada imunisasi DPT-HB-Hib 1 dari target cakupan 57,2%ternyata mencapai 59,3%. Begitupun pada DPT-HB-Hib 2 dari target 55,4%, cakupannya lebih 57,9%, dan terakhir DPT-HB-Hib 3 dari target 52,5% hingga Juli cakupannya lebih dari 57,8%. “Orang tua degan sasaran bayi sangat antusias atas program imunisasi ini,” jelas di di Bandung kemarin.

Menurut Head of Corporate Communications PT Bio Farma (Persero) N Nurlaela, sejak di canangkan di empat provinsi (Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bali, dan NTB) 2013 lalu, respons masyarakat atas vaksin ini cukup baik. Penyerdehanaan imunisasi dari 9 kali suntik menjadi tiga kali suntik cukup meringankan masyarakat. Para orang tua tidak perlu lagi mengikuti padatnya jadwal imunisasi, terutama warga di pelosok daerah.

Apabila kebutuhan vaksin pentavalen di dalam negeri telah terpenuhi, tidak menutup kemungkinan vaksin tersebut juga akan di ekspor. Menurut dia, di dunia baru ada empat Negara yang telah memproduksi vaksin pentavalen. Indonesia termasuk leading pada produk tersebut.

“Vaksin ini cukup bagus karena menyederhanakan dari sembilan kali suntik menjadi tiga kali suntik. Saya yakin negara-negara di dunia akan merespons positif,”jelas dia. Potensi ekspor pada vaksin pentavalen diyakini akan meningkatkan kinerja keuangan PT Bio Farma. Apalagi, selama ini pendapatan terbesar perusahaan didapat dari kinerja ekspor.

Menurut Corporate Secretary PT Bio Farma (Persero) M Rahman Roestan, tahun ini BUMN-nya memproyeksikan pencapaian pendapatan Rp2 triliun atau tumbuh sekitar 20%. Proyeksi tersebut lebih tinggi dari pencapaian pendapatan 2013 senilai Rp1,8 triliun dengan laba bersih Rp500 miliar.

“Pendapatan tetap Bio Farma mayoritas didapat dari ekspor vaksin, dengan volume antara 60-70% dari total produksi vaksin kami,”jelas Rahman. Upaya Bio Farma meningkatkan kinerja perseroan, dilakukan melalui penambahan produksi dari 1,3 triliun dosis menjadi 2 triliun dosis, mengandalkan vaksin baru seperti pentabio dan bulk (bahan dasar vaksin) ke sejumlah negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Saat ini, lanjut dia, Bio Farma telah melakukan ekspor vaksin ke-126 negara. Posisi tersebut menempatkan market share vaksin polio Bio Farma sekitar 50% dari total market vaksin polio dunia. Ketersediaan vaksin polio Bio Farma juga masih cukup untuk puluhan tahun ke depan.

Cegah Wabah

Efisiensi imunisasi melalui vaksin pentavalen dipastikan turut mencegah balita dari berbagai wabah dan penyakit. Menurut Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Soedjatmiko SpA (K) MSi, para ahli di 194 negara yang mengawasi program imunisasi menyatakan, imunisasi terbukti bermanfaat mencegah berbagai wabah, sakit berat, cacat, atau bahkan kematian akibat penyakit menular.

Program imunisasi yang dilakukan setiap negara diperkirakan mampu mencegah sekitar 2 hingga 3 juta kematian bayi setiap tahunnya. Orang tua juga dinilai sanga berperan dalam pemberian vaksin terhadap anaknya.

Dia mencontohkan, pada 2004 banyak orang tua tidak mau bayinya mendapatkan imunisasi. Dampaknya pada medio 2008 hingga 2013, terjadi wabah difteri di Jawa Timur, lalumenyebar ke Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan DKI Jakarta. Kasus tersebut mengakibatkan sekitar 1.798 bayi dan anak di rawat di rumah sakit dan 94 di antaranya meninggal dunia.

Menurut dia, munculnya anggapan negative masyarakat terkait vaksin sangat merugikan program imunisasi terhadap anak. Padahal, lanjut dia, semua vaksin yang digunakan pada program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma. Selain telah berpengalaman lebih dari 120 tahun, pebuatan vaksi Bio Farma juga di bawah pengawasan ketat organisasi kesehatan PBB, WHO.

“Produk vaksin Bio Farma tidak hanya dipakai di Indonesia. Tapi lebih dari 126 negara telah menggunakan produk vaksin BUMN yang berkantor di Bandung itu. Dari ratusan negara yang menggunakan vaksin Bio Farma, sekitar 36 negara mayoritas penduduknya beragama islam,” imbuh dia.

 

Sekretaris Satgas IDAI

Dr Soedjatmiko SpA(K)

“Produk vaksin di Bio Farma tidak hanya dipakai di Indonesia. Tapi lebih dari 126 negara telah menggunakan produk vaksin BUMN yang berkantor di Bandung itu.”

 

Corporate Secretary PT Bio Farma (Persero)

M Rahman Roestan

“Pendapatan tetap Bio Farma mayoritas didapat dari ekspor vaksin, dengan volume antara 60-70% dari total produksi vaksin kami.”

 

Kadinkes Jabar

Alma Lucyati

“Orang tua dengan sasaran bayi sangat antusias atas program imunisasi ini.”

 

Efisiensi vaksin Bio Farma

  1. Selama puluhan tahun anak-anak Indonesia harus menjalan 12 kali suntikan imunisasi seperti difteri, polio, pertusis, tetanus, hepatitis B, serta Hib, campak dan lainnya.
  2. Pentavalen mulai diproduksi pada 2007 dan diedarkan PT Bio Farma pada 2013, kini balita hanya perlu melakukan enam kali suntik imunisasi.
  3. Selain, lebih mengefisiensikan vaksinasi, vaksin pentavalen juga mempermudah proses imunisasi kepada masyarakat, mengurangi penggunaan jarum suntik, serta menurunkan biaya produksi.
  4. Vaksin pentavalen diharapkan mengurangi sekitar 22 juta bayi di dunia dan 9,5 di antaranya ada di Asia Tenggara yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
  5. Program imunisasi yang dilakukan setiap negara diperkirakan mampu mencegah sekitar 2 hingga 3 juta kematian bayi setiap tahunnya.

 

Sumber : Koran Sindo 26 September 2014


Kategori ANTISERA