Thursday, 17 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT Bahtera Adhiguna

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Achievements

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

SAFETY OF LIFE AT SEA 1974

10 July 2008

SAFETY OF LIFE AT SEA 1974

Sejarah transportasi laut mengalami masa keemasannya pada abad 19
hingga pertengahan abad 20. Hal ini dikarenakan masih kurang
tersedianya sarana angkutan udara pada masa itu. Sementara eksodus
besar-besaran ke Amerika oleh para imigran dari eropa maupun dari
belahan dunia yang lain juga banyak terjadi pada tahun-tahun itu. Ini
menyebabkan kebutuhan kapal penumpang antar benua semakin meningkat.
Demikian juga kecelakaan yang menimpa kapal-kapal itu pun semakin
meningkat. Kerajaan Inggris mencatat rata-rata angka korban akibat
kecelakaan yang terjadi pada kapal mereka berkisar antara 700 hingga
800 pada periode tersebut. Hingga musibah laut yang mungkin tak akan
dilupakan, yaitu tenggelamnya SS. Titanic pada tahun 1912 yang menelan
korban jiwa lebih dari 1.500 orang.

Musibah
laut yang sangat menyedihkan itu mendorong orang untuk menyusun sebuah
peraturan keselamatan dalam pelayaran yang bisa dipatuhi secara
internasional. Cita-cita berhasil diwujudkan pada tahun 1914 dengan
terselenggaranya sebuah konferensi yang dihadiri oleh 13 negara dan
diadakan di kota London. Konferensi ini melahirkan konvensi yang
terkenal dengan sebutan Safety of Life at Sea dan selanjutnya disingkat
dengan SOLAS. Inilah yang menjadi SOLAS versi pertama yang disahkan
pada tanggal 20 Januari 1914.

Sebenarnya konvensi ini akan
segera diberlakukan pada bulan Juli 1915. Namun permberlakuan ini
terpaksa ditunda karena terlanjur pecah sebuah perang besar di Eropa.
Tapi konvensi SOLAS ini sudah dilaksanakan oleh beberapa negara yang
mengikuti konferensi di London itu. Pemberlakuan masih bersifat
terpisah tanpa adanya induk organisasi bersifat internasional untuk
mengawasi pelaksanaannya.

Seiring dengan perkembangan di
bidang maritim, terutama pada rancang bangun kapal, pada tahun 1927
muncul usulan-usulan untuk menyelenggarakan konferensi yang serupa.
Selanjutnya konferensi ini berhasil diadakan. Dan kota London kembali
terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan ini. Konferensi
ini dihadiri oleh 18 negara dan segera mengadopsi Konvensi SOLAS yang
baru. Konvensi SOLAS versi kedua ini banyak menganut dasar-dasar pada
Konvensi SOLAS versi pertama. Konvensi SOLAS yang baru ini selanjutnya
disebut dengan Konvensi SOLAS 1929 dan mulai diberlakukan pada tahun
1933.

Pada tahun 1948, pemerintah Inggris mengupayakan
diadakannya konferensi internasional untuk penyempurnaan Konvensi SOLAS
yang terdahulu. Konvensi SOLAS yang baru ini (versi ketiga) mengikuti
corak yang sudah ada dan mencakup suatu lingkup yang lebih luas dan
lebih terperinci dari kapal-kapal. Perbaikan ditambahkan pada
pemberlakuan fasilitas subdivisi kedap air pada kapal-kapal penumpang,
standard stabilitas kapal, perlindungan terjadinya kebakaran secara
struktural, dan pemeliharaan dari pelayanan-pelayanan pada keadaan
darurat. Satu hal penting lagi telah ditambahkan, yaitu pengenalan tiga
metode alternatif subdivisi dengan sekat-sekat api dengan penutupan
tangga-tangga naik utama.

Pada tahun 1948 ini juga
diselenggarakan sebuah konferensi yang diprakarsai oleh PBB dan
diadakan di Geneva. Konferensi ini melahirkan satu konvensi untuk
pendirian IMCO, cikal bakal IMO (Intenational Maritime Organisation).
Dan Konvensi SOLAS 1948 pun mengakui keberadaan organisasi maritim ini.
Diharapkan organisasi yang baru berdiri ini dapat mengadopsi legalitas
terhadap semua masalah yang berhubungan dengan keselamatan kemaritiman.
Dan semenjak itu segala upaya untuk langkah-langkah perbaikan Konvensi
SOLAS dilakukan oleh IMO secara periodik. Salah satunya adalah
penyelenggaraan konferensi yang diikuti oleh 55 negara anggota guna
mengupayakan lahirnya Konvensi SOLAS 1960 atau Konvensi SOLAS Versi
Keempat. Konvensi SOLAS 1960 ini telah memasukkan berbagai pembaharuan
teknis untuk mengakomodasi banyak perkembangan baru di bidang
kemaritiman.

Konvensi SOLAS 1960 secara resmi diberlakukan pada
tahun 1966. Semula ketentuan-ketentuan yang dilahirkan banyak
diaplikasikan untuk kapal-kapal penumpang. Tetapi pada perkembangan
berikutnya makin meluas dengan pemberlakuan pada kapal-kapal barang
juga. Disini dipandang perlu untuk pengadaan yang berhubungan dengan
tenaga, penerangan darurat dan perlindungan terhadap bahaya kebakaran.

Pada
tahun-tahun selanjutnya IMO mengembangkan suatu kodefikasi
internasional yang seragam penggunaannya untuk keselamatan pelayaran
kapal barang. Terutama untuk kapal-kapal yang mengangkut barang
berbahaya yang karena sifatnya membuat barang ini mudah terbakar atau
meledak. Kodefikasi ini dikenal dengan sebutan IMDG Code.

Konferensi
untuk meratifikasi SOLAS yang paling terakhir diadakan di London dan
diselenggarakan pada tanggal 21 Oktober hingga 1 Nopember 1974.
Konferensi ini dihadiri 71 negara. Konvensi yang telah disahkan ini
adalah versi yang sekarang berlaku.

Demikianlah sekelumit
kronologis tentang keberadaan SOLAS, terlebih SOLAS 1974 yang hingga
kini masih digunakan secara internasional. Materi tulisan dihimpun dari
berbagai sumber.

Johan Suryantoro.com
http://johan-suryantoro.com/2008/06/safety-of-life-at-sea-1974.html

Source :johan-suryantoro.com



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

: *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>