Sunday, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT Bahtera Adhiguna

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Achievements

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

JANHIDROS TNI AL : Pembuat Peta Laut Indonesia

9 July 2008

JANHIDROS TNI AL : Pembuat Peta Laut Indonesia

Mungkin hanya segelintir orang yang tahu institusi mana yang membuat
peta laut Indonesia yang merupakan sarana vital dan alat pemandu dunia
pelayaran kita. Institusi itu adalah Jawatan Hidro-Oceanografi
(Janhidros) TNI Angkatan Laut. Untuk mengetahui lebih jauh tentang
seluk beluk pembuatan peta hidrografi dan oseanografi, Patriot
melaksanakan wawancara dengan Kepala Janhidros Laksamana Pertama TNI
Willem Rampangilei di kantornya Jalan Pantai Kuta V/1 Ancol, Jakarta
Utara.

Janhidros memiliki tugas pokok menyelenggarakan survey pemetaan
atau Hidro-Oseanografi dalam rangka menyediakan peta laut baik untuk
kepentingan Militer/pertahanan, maupun kepentingan umum seperti
navigasi pelayaran. Menurut Kajanhidros Laksma Willem Rampangilei
produk utama Janhidros adalah peta-peta militer guna kepentingan perang
laut yang meliputi perang ranjau (menebar dan menetralisir ranjau)
operasi amfibi, perang kapal selam yang memuat gambaran tentang lapisan
bawah air permukaan laut yang sangat diperlukan bagi kepentingan kapal
selam dan penyiapan peta untuk pendaratan operasi amfibi. Janhidros
juga memproduksi peta laut untuk kepentingan umum seperti untuk
kepentingan Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perhubungan,
termasuk melaksanakan riset Hidro-Oseanografi, Border Delimitation
Diplomatic atau perbatasan perairan dengan negara-negara tetangga
melalui penentuan batas perairan secara teknis.
Data informasi yang disajikan antara lain kedalaman laut, karena
setiap pelayaran baik militer maupun umum, yang paling diperhatikan
adalah kedalaman laut, rintangan-rintangan navigasi seperti keberadaan
karang, bangkai kapal, pipa-pipa dan kabel bawah laut, termasuk jenis
dasar laut.
Menurut perwira lulusan Sepamilwa tahun 1980 itu wilayah laut
kita belum terpetakan semua, karena memang wilayah laut Indonesia
sangat luas. Diingatkan meskipun wilayah laut kita sangat luas dan
memberikan keuntungan sangat besar bila diekplorasi dengan baik, tetapi
sebaliknya juga mengandung berbagai kerawanan dan tantangan yang
membutuhkan dana yang besar pula mengamankan dan mengeksplorasinya.
Masih banyak daerah-daerah yang belum di survey dan dia yakin
wilayah-wilayah itu sangat kaya akan sumber daya alam (SDA) laut
seperti ikan, tambang, harta karun termasuk berbagai mineral lainnya.
Sampai saat ini survey yang dilakukan oleh Janhidros masih terbatas dan
memprioritaskan daerah-daerah tertentu seperti pelabuhan-pelabuhan,
alur pelayaran/route pelayaran. Janhidros kedepan berupaya memetakan
dengan baik seluruh wilayah laut Indonesia.

Sampai saat ini Janhidros merupakan suatu lembaga yang di berikan
otoritas untuk memproduksi peta-peta untuk kepentingan
militer/pertahanan maupun umum yang di akui oleh hukum baik Nasional
maupun Internasional. Semua kapal-kapal yang berlayar di perairan
Indonesia menggunakan peta hasil dari produk Janhidros yang sudah di
akui secara hukum baik Nasional maupun Internasional. Janhidros
merupakan salah satu anggota Internasional Hydrography Organization
(IHO) yang berkedudukan di Monaco. ”Dan kita juga hadir disana tiap
tahunnya, kita juga bekerja sama dengan United Kingdom Hidrografi
Office (UKHO) atau Hidrosnya Inggris, dimana merupakan Hidros yang
tertua di dunia dansudah mampu memproduksi peta secara global”, tambah
Laksma TNI Willem yang fasih berbahasa Inggeris itu.

Survey yang dilakukan oleh Hidrografi adalah survey
Hidrografi,dan Oseanografi dan hasilnya dapat di pergunakan untuk
kepentingan ilmu pengetahuan. Oceanografi adalah pemetaan tentang
bentuk-bentuk dasar laut, jenis dasar laut. Sedang Oseanografi adalah
peta mengenai hal-hal yang terkait dengan air laut seperti temperatur,
arus, salinitas air dan sebagainya. Survey kelautan tidak hanya
dilakukan oleh Janhidros saja,tetapi juga dilakukan oleh instansi lain
seperti LIPI, LAPAN, BPPT,BKP. Tetapi khusus untuk survey Hidrografi
dan Oseanonografi oleh Janhidros. ”Dan antar instansi-instansi ini kita
saling kerja sama tukar tukar menukar informasi”, tambah Kajanhidros.

Mengenai kontribusi Janhidros dalam menentukan batas wilayah laut
Indonesia perwira yang pernah bertugas sebagai utusan tetap RI di PBB
itu menjelaskan bahwa hasil pemetaan produk Janhidros utamanya di
perairan perbatasan digunakan oleh Deplu sebagai referensi untuk
berdiplomasi menentukan batas wilayah perairan dengan negara tetangga.
”Yang perlu diketahui batas wilayah laut bukan riil tetapi merupakan
batas imajiner dan harus dibicarakan secara bilateral, tidak dapat
dilaksanakan secara sepihak”, tambahnya.

Mengenai kendala yang dihadapi Janhidros dalam melaksanakan tugas
pria kelahiran Surabaya 9 September 1955 itu menjelaskan bahwa sarana
dan peralatan merupakan kemdala utama dihadapkan dengan luas laut yang
harus dipetakan serta update peta yang harus dilakukan. Idealnya update
peta laut dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Secara teori setiap tahun
kita harus mengupdate 470 peta, namun sampai saat ini kita hanya mampu
mengupdate 6 peta. Kendala yang paling nyata adalah masalah kapal
survey dan pemetaan. Sampai saat ini Janhidros belum memiliki kapal
khusus survey. Selama ini kapal yang digunakan oleh Janhidros untuk
melaksanakan survey dan pemetaan adalah kapal perang Republik Indonesia
(KRI) yang dimodifikasi dan dilengkapi peralatan survey. ”Dulu
Janhidros pernah dipinjami kapal survey ”Baruna Jaya” oleh BPPT, namun
beberapa tahun lalu kapal itu sudah ditarik lagi”, jelasnya.

Ketika ditanya mengenai berapa banyak idealnya kapal survey yang
harus dimiliki Janhidros, Laksma TNI Willem Rampangilei menjelaskan
bahwa pihaknya belum melakuksanakan study berapa banyak kapal survey
yang dibutuhkan, karena hal ini terkait dengan anggaran yang mampu
disediakan oleh negara. Namun dia memberi gambaran Singapura yang luas
lautnya tidak seberapa luas memiliki beberapa kapal survey, apalagi
Malaysia memiliki kapal survey yang lebih banyak lagi.
”Mengingat kondisi ekonomi yang tengah dihadapi negara,
semenatara kapal survey yang cukup dibutuhkan minimal 4buah kapal. Dua
kapal survey untuk perairan dangkal, satu kapal survey untuk pemetaan
laut di perairan menengah dan satu lagi kapal survey untuk perairan
dalam. Hal ini karena laut Indonesia mempunyai dua ciri bagian timur
perairan kita adalah perairan menengah dan dalam, sementara wilayah
laut barat kita pada umumnya perairan dangkal sampai menengah,
ungkapnya.

Mengenai peralatan khusus survey dan pemetaan yang dimiliki
Janhidros Laksma Willem Rampangilei secara jujur menjelaskan bahwa
peralatan yang dimilikinya relatif agak ketinggalan dan perlu
dimodernisasi. Apalagi pada tahun 2010 menurut rencana peta kertas
seperti yang di produksi oleh Janhidros saat ini sudah tidak digunakan
lagi sebagai peta pokok, hanya sebagai peta yang bersifat complementary
(pelengkap) dan akan diganti dengan peta laut digital atau peta laut
elektronik (Elektronic Navigational Chart/ENC) yang mampu menampilkan
informasi pelayaran melalui komputer. Kebutuhan teknologi survey dan
pemetaan laut yang modern ini merupakan suatu kebutuhan, apalagi dengan
berlakunya UNCLOS 1982 (United Nations Convention on Law of The Sea),
Indonesia diakui sebagai negara kepulauan dan perairan yuridiksi
Indonesia bertambah luas serta perlu segera dipetakan.

Untuk meningkatkan kemampuan SDM personil Janhidros menurut
Laksma TNI Willem Rampangilei terus dilakukan dengan program kerjasama
untuk mengirimkan personil Janhidros belajar diberbagai perguruan
tinggi seperti di ITB Bandung, STTAL dan Kodiklat Surabaya. Kerjasama
dan pengiriman personil ke luar negeri juga terus dilakukan seperti
pengiriman personil ke Rusia, USA, Yugoslavia, Inggris, Perancis dan
negara lainnya.

Proses survey dan Pemetaan

Pembuatan peta laut tidak segampang yang kita bayangkan, tetapi
melalui proses yang bertahap dan memakan waktu yang cukup lama,
disamping tentunya dengan biaya yang cukup besar. Proses pembuatan peta
laut yang dilakukan oleh Janhidros melalui 4 (empat) tahap yaitu tahap
perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran.

Tahap pertama perencanaan meliputi pembuatan rencana garis besar
survey serta penetapan batas area survey di dasarkan kepentingan taktis
dan strategis TNI atau TNI-AL. Melaksanakan survey pendahuluan untuk
mendapatkan informasi utama mengenai daerah survey antara lain mengenai
kondisi topografi, prakiraan cuaca, logistik, keberadaan titik logistik
dan sebagainya. Penyusunan rencana operasi meliputi spesifikasi teknis
survey, analisa daerah operasi, komando dan perhubungan admionistrasi
dan logistik pelaksanaan survey dilaksanakan dengan kapal atau tim
pesisir.

Tahap kedua persiapan antara lain menyiapkan personil survey,
mempelajari rencana operasi, pengumpulan data referensi dan informasi
serta membuat jaringan atau net peta. Menyiapkan kesiapan kapal
termasuk personil untuk menjamin kelancaran survey dan penyiapan
analisa daerah operasi.

Menyiapkan peralatan khusus survey yang meliputi peralatan geodesi
pengukur kedalaman laut, penentu posisi (GPS), alat ukur garis pantai,
alat ukur arus dan pasang surut, alat ukur kontak vertikal, alat ukur
meteorologi, komputer pengolahan data dan sebagainya. Veranautikas
melaksanakan kalibrasi peralatan survey sehingga memiliki standart
ketelitian yang ditentukan serta penyiapan material survey. Menyiapkan
peralatan tulis lapangan, blangko pengamatan, alat gambar, alat
bangunan dan perambuan, kertas pendukung peralatan, perlengkapan
akomodasi lapangan dan peralatan kemawilan tim pesisir.

Tahap ketiga pelaksanaan diawali dengan pengiriman Tim aju untuk
memperlancar tahap pelaksanaan operasi nantinya. Selanjutnya
dilaksanakan pengumpulan data lapangan. Komandan KRI atau Kepala Unit
Survey bersama timnya melaksanakan pengumpulan data hidrografi, data
oseanografi, data meteorologi dan data geografi maritim. Selanjutnya
dilaksanakan pengolahan data awal. Semua data yang masih mentah diuji
keakuratannya sebelum dapat digunakan sebagai data acuan hasil survey.
Setelah data mentah diolah dan dinyatakan memenuhi kriteria yang
ditetapkan, maka data tersebut ditampilkan dalam penyajian data awal
berupa format, buku-buku laporan lapangan, lembar lukis lapangan dan
lembar sekoci serta foto dokumentasi. Selanjutnya data lapangan diuji
ulang (wash up) dan dievaluasi apakah data yang diperoleh benar atau
laik untuk diproses. Selanjutnya dilaksanakan pengolahan data
hidrografi dan dilaksanakan kaji ulang. Setelah memenuhi persyaratan
yang ditetapkan baik oleh Janhidros atau IHO menjadi lembar lukis
lapangan dan buku laporan lapangan. Tahap pengolahan data oseanografi,
mteorologi dan geografi maritim meliputi pengolahan data fasilitas
count . Data arus pasang surut diperiksa dan diolah hasilnya adalah
informasi tentang arus pasang surut perairan yang disurvey. Data
geografi maritim diperiksa dan diolah serta hasilnya dipergunakan untuk
perbaikan buku Kepanduan Bahari.

Tahap keempat pengakhiran meliputi proses kartografi dan
pemutakhiran data kelautan. Pada proses kartografi lembar proses teliti
yang telah disahkan oleh pemimpin Janhidros dijadikan sumber data untuk
pembuatan peta laut baru maupun perbaikan peta laut yang telah ada.
Selanjutnya dilaksanakan proses pemutakhiran data kelautan antara lain
merangkum berbagai data dan informasi kelautan meliputi lembar lukis
lapangan, buku laporan survey sebagai basis data penyempurnaan dan
penambahan informasi nautis dan berbagai produk nautical serta naskah
kelautan lainnya. Selanjutnya dilaksanakan penyusunan data sistem
informasi Janhidros, pengolahan data, mengkompilasi dan menyiapkan bank
data hidrografi dan oseanografi serta pemeliharaan data hidrografi dan
oseanografi. Peta yang telah diproses dan disahkan oleh pemimpin
Janhidros dicetak di percetakan Janhidros untuk pembuatan peta laut
edisi baru maupun perbaikan peta laut yang sudah ada. Selanjutnya
dilaksanakan pencetakan buku-buku nautical dan publikasi lainnya. (Tim Patriot, internet TNI )
by doea-doea

CAAIPnet, 21 Januari 2008
http://www.caaip.net/v3/view-article-5-96.html

Source :CAAIPnet



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

: *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>