Senin, 21 Mei 2012

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Prestasi

Kegiatan

Mei  2012
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31  

Kontak Kami

pic

Jajak

Sorry, there are no polls available at the moment.

Berkat Askes , Balita Azka Terselamatkan

29 September 2011

AWAL Agustus 2011 sejumlah media massa memberitakan kasus guillain barre syndrome yang dialami Azka Arrizqi (4,3). Seperti diberitakan Pelita, sebelum dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Azka yang merupakan anak satu-satunya dari pasangan Anto Ariyanto, 42 dan Rina, 38, dirawat selama sepekan di ruang Perinatal Intensive Care Unit, RS Azra, Bogor. Namun, sejak selasa, 2 Agustus 2011, Azka dipindahkan perawatannya ke RSCM Jakarta.

Kini kondisi kesehatan Azka sudah membaik. Meskipun belum bisa jalan sendiri, namun sudah menunjukkan kemajuan karena sudah tidak bergantung dengan alat bantu pernapasan atau ventilator. Anton dan Rina tidak henti-hentinya berdoa agar cobaan yang diterimannya dapat diterima dengan penuh kesabaran.

Anton pun mengaku sangat bersyukur seluruh biaya pengobatan sampai Azka sembuh ditanggung seluruhnya oleh PT Askes (Persero). Karena dia sebagai pegawai negeri sipil yang menjadi peserta Askes Sosial. Bahkan biaya perawatan selama di RS Azra Bogor sebesar Rp 87,5 juta dibayar oleh PT Askes.

Anton dan istrinya juga semakin tenang karena seluruh biaya pengobatan sampai azka sembuh juga ditanggung PT Askes. Sebab, penyakit GBS juga tergolong jenis penyakit katastropik atau tergolong berat seperti jantung dan kanker yang juga di-cover Askes Sosial.

Guiilain Barre Syndrome merupakan penyakit langka yang menyerang satu dari 100.000  ribu orang per tahun. Bahkan penyebabnya pun belum diketahui dan bagaimana awal munculnya penyakit ini pun tidak diketahui pasti.

Namun menurut catatan medis, penderita GBS mengalami disebabkan oleh sistem auto imun yang menghasilkan antibodi berlebihan saat menghadapi virus atau bakteri. Antibodi justru menyerang syaraf tepi. Menurut cerita Rina, ibunda Azka awalnya Azka, mengalami semutan dan tiba-tiba tidak bisa memegang botol minumnya. Lalu merasakan sakit dikakinya.

“Saya memang belum pernah memanfaatkan kartu Askes. Tetapi setelah anak saya memerlukan biaya pengobatan yang sangat mahal, sungguh sangat berat. Untunglah Askes bisa menyelesaikan seluruh biaya. Saya mengucapkan terima kasih kepada PT Askes,” kata Anton beberapa waktu lalu.

Jaminan kesehatan yang diberikan PT Askes itulah yang membuat Anton menyatakan Azka mundur dari gerakan 1.000 Peduli Azka dan Shafa. Alasan orang tua Azka merasa biaya pengobatan anaknya telah ditanggung oleh Askes. Sehingga tidak pantas lagi untuk menerima donasi. “ jika mendapatkan donasi dari sukarelawan, akan saya salurkan lagi kepada penderita GBS yang membutuhkan” ujarnya.

Seperti misalnya, kata Anton selain Shafa (4,8) masih ada penderita GBS lainnya yakni Tissa Tissa Trinovita (17) yang dirawat di RS Dharmais. Selama dua bulan perawatan di rumah sakit, biaya pengobatan Tissa mencapai Rp 350 juta.

Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa mengatakan, pihaknya memberikan jaminan pembiyaan kesehatan kepada Azka, karena orang tua Azka yaitu Anto Ariyanto adalah peserta Askes, sehingga mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa batasan biaya dan hari rawat. “Tentunya harus sesuai dengan sistem yang dianut PT Askes, sesuai prosedur dan aturan yang berlaku,’ kata Gede.

Disisi lain Gede merasa prihatin, saat ini masih banyak warga negara Indonesia tidak memiliki jaminan kesehatan, Shafa (penderita GBS) adalah salah satu diantara orang yang tidak dilindungi asuransi sosial kesehatan. “Saya dan masyarakat Indonesia menantikan Sistem Jaminan Sosial Nasional dapat segera dilaksanakan, agar kasus seperti Shafa dapat teratasi,” ujarnya.

Menurut Gede, PT Askes mungkin satu-satunya perusahaan asuransi sosial kesehatan yang memiliki cadangan dana cukup besar yaitu sekitar Rp 5 triliun. Premi tahun ini disebesar Rp 7,8 triliun dari 16,6 juta peserta Askes. Premi dibayar oleh peserta sebesar 50 persen dan disubsidi oleh pemerintah sebasar 50 persen. Jadi rata-rata besaran premi per peserta sebesar Rp 38 ribu. Premi Askes jauh lebih rendah dari asuransi swasta yang minimal Rp200ribu perbulan.

Sifat asuransi sosial adalah gotong royong. Artinya peserta yang sehat membiayai yang sakit, yang mampu membiayai yang miskin. Gede menjelaskan, peserta Askes yang mengalami gagal ginjal sekitar 8 ribu orang. Setiap bulan peserta gagal ginjal setiap bulan memerlukan biaya untuk cuci darah (hemodialisa) dengan kisaran antara Rp 10 juta hingga Rp 18 juta.

Biaya ini sangat berat jika harus membayar langsung dari kantor sendiri. Tetapi adanya asuransi sosial dari Askes, dengan premi Rp 38 ribu, peserta Askes bisa menjalani cuci darah tersebut, maka diperlukan sekitar 125 peserta Askes yang sehat. Artinya peserta Askes yang sehat itu tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan.

“sisa hasil usaha akan disimpan sebagai cadangan premi. Tetapi kita juga menyisihkan untuk dana CSR (corporate social responsibility). Cadangan premi ini sebagai jaminan sustainable atau kelangsungan program. Jaminan kesehatan tidak boleh berhenti atau macet,” kata Gede.

Cadangan premi itu juga dapat dimanfaatkan jika terjadi  wabah penyakit yang menyerang peserta Askes beberapa waktu lalu, PT Askes pernah mengalami “tekor” atau defisit karena biaya pelayanan atau klaim lebih besar dari pada premi yang diterima sehingga kekurangan biaya itu diambil dari dana cadangan premi.

Untuk itulah PT Askes menerapkan sistem managed care. Semua pelayanan dilakukan dengan azaz manfaat yaitu pemanfaatan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhannya taua tidak berlebihan. Tujuannya agar penggunaan dana premi pun menjadi efisien.

Gede pun mengingatkam kepada peserta Askes untuk menyimpan kartu Askes sebaik-baiknya, agar saat diperlukan dapat segera dimanfaatkan.

Namun, kata Gede hal yang sangat penting adalah menjaga kesehatan. Pihaknya juga memprioritaskan program-program promotif dan preventif. Dalam hal promosi kesehatan PT Askes melakukan kegiatan senam bersama setiap triwulan sekali berupa senam sehat di setiap kabupaten/kota, mengadakan chek-up kesehatan untuk peserta. Agar peserta yang sehat tetap terjaga sehat, peserta yang berisiko mengidap penyakit berat segera terdekteksi dan dijaga agar tidak menjadi kronis, sedangkan yang sudah sakit segera diobati. Semua itu bertujuan agar peserta Askes memiliki kualitas hidup yang baik.  (dewi purnamasari)



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>