Wednesday, 16 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Vision PT Angkasa Pura II (PERSERO) : "To be an international-class airport management company with high competitiveness regionally"

Achievements

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

Bagaimana menurut pendapat Anda mengenai pelayanan yang diberikan oleh PT Angkasa Pura II (Persero) ketika anda berada di Bandara yang kami kelola?

View Results

Loading ... Loading ...

PT (Persero) Angkasa Pura II

20 September 2007

 

Pada tahun 2006, PT
(Persero) Angkasa Pura II meraih “BUMN Award” dengan predikat sebagai
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Terbaik. Hal ini memang wajar diterimanya,
mengingat BUMN ini telah menerapkan Good Corporate Governance (GCG) secara nyata.
Bahkan, BUMN yang berstatus persero pada 1993 dan mengelola 12 bandar udara
(bandara) di kawasan barat Indonesia (Bandara Sultan Syarif Kasim II,
Pekanbaru, Bandara International Soekarno-Hatta Jakarta, Bandara Halim Perdana
Kusuma, Bandara POlonia Medan, Bandara International Minangkabau Padang,
Bandara Kijang Tanjung Pinang, Bandara SM Badaruddin II Palembang, Bandara
Husein Sastranegara Bandung, Bandara Supadio Pontianak, Bandara Sultan Thaha
Jambi, Bandara Depati Amir Pangkal Pinang, dan Bandara Sultan Iskandar Muda
Banda Aceh), tengah menyiapkan langkah-langkah strategis dalam upaya
meningkatkan kinerja yang jauh lebih baik lagi

 

Seperti diketahui, PT (Persero) Angkasa Pura II memiliki dua
bidang Aeronautika, yang didalamnya termasuk Pelayanan jasa pendaratan,
penempatan, dan penyimpanan pesawat udara (PJP4U), Pelayanan jasa penumpang
pesawat udara(PJP2U), Pelayanan jasa penerbangan (PJP),Pelayanan jasa
Garbarata, Pelayanan Jasa Konter. Kedua, adalah Pelayanan di bidang Non
Aeronautika. Terdiri dari Penyewaan ruangan,gudang,lahan dan fasilitas lainnya,
Kegiatan Konsesioner, Parkir kendaraan, Pas Bandara, Penyediaanlahan untuk
bangunan, lapangan dan industri serta bangunan, yang berhubungan dengan
kelancaran angkutan Udara, periklanan dan usaha lain yang terkait dengan
Marketing (Pemasaran), seperti penyewaan ruangan konsesi, pertokoan, tempat
rekreasi, periklanan, agro bisnis, pelayanan penitipan barang/bagasi, tempat
pameran, dan pelayanan kargo.

KAPASITAS

Saat ini untuk Aeronautika, manajemen PT (Persero) Angkasa
Pura II terus berupaya meningkatkan pelayanan bagi pengguna jasa transportasi
moda udara. Utamanya, terkait dengan adanya peningkatan pergerakan penumpang
dari tahun ke tahun, seiring dengan pertumbuhan bisnis airlines (maskapi
penerbangan) yang menerapkan sistem Low Cost Carrier, biaya penerbangan yang
semakin murah. Implikasinya, bisaitebak. Volume jumlah penumpang meningkat, dan
kesibukan bandara semakin tinggi.

Presiden Director PT (Persero) Angkasa Pura II Edie Haryoto
mengungkapkan, sebagai contoh pertumbuhan Bandara Internasional Soekarno-Hatta
pada tahun 2004 sempat tertinggi didunia, dengan pertumbuhan 34 %. Nah,
pertumbuhan yang begitu cepat, mengakibatkan bandara yang dikelola AP II ini
dikejar-kejar dengan pemenuhan kapasitas. Padahal, pada 2002, urai Edie,kapasitas
pergerakan penumpang yang terlayan 16 juta dari 18 juta terlayani. Puncaknya
pada tahun 2006, dimana pergerakan penumpang mencapai 31 juta penumpang. “Jadi
tentu semuanya jadi kekurangan kapasitas. Contoh lain bandara Polonia. Dari
kapasitas 800 ribu penumpang, kini harus mampu melayani 4 juta penumpang,” tuturnya.

Untuk mengatasi lonjakan penumpang, jelas Edie, tentu saja
harus ada investasi baru dalam upaya mengembangkan bandara. Khusus  Soekarno-Hatta Cengkareng, akan dibangun Terminal
III untuk menampung limpahan penumpang dari Terminal I dan Terminal II. Saat
ini, pihaknya telah melakukan proses tender, dengan investasi mencapai Rp. 2
triliun. Bahkan ke depan, ungkap Edie, AP II berencana menggabungkan Terminal I
dan II. Namun mengingat investasi sangat tinggi, Rp 6 triliun, maka rencana
ditunda, dan difokuskan untuk membangun Terminal III agar lonjakan penumpang
yang terjadi di Terminal I dan II teratasi.

Adapun untuk Medan, managemen AP II telah membangun bandara
baru bernama Bandara Kuala Namu, dengan investasi sebesar Rp 3,4 triliun.
Diharapakan pada 2009, sudah bias dioperasiakan. Sementara di Padang, pihaknya
telah membangun Bandara Minangkabau Airport dan di Palembang telah di bangun
terminal baru. Berikutnya yang akan segera ditingkatkan kapasitasnya adalah
Bandara Sultan Iskandar Muda (Aceh), Bandara Sultan Kasim II (Pekanbaru),
Bandara Depati (Pangkal Pinang), dan Bandara Sultan Thaha (Jambi).

NON-AERONAUTIKA (NA)     

Edie, mengungkapkan, selain meningkatkan kinerja di
aeronautika, pihak menagemen AP II juga akan meningkatkan performannya di
Non-Aeronautika (NA), yang selama ini mengalami pertumbuhan yang luar biasa,
bahkan memiliki kontribusi yang sangat signifikan bagi kinerja usaha AP II.
“Tahun 2006, kita memiliki pendapatan yang cukup baik, sebesar Rp 402,93
miliar”, jelas Edie Haryoto. Itu sebabnya, kedepan managemen AP II mulai
membenahi bandara-bandara yang ada dalam pengelolaannyal, dengan cara
meningkatkan space (ruang) yang ada,
seperti ruang iklan dan toko-toko merchandise.
Masalahnya, selama ini,seperti diakui Edie, hamper semua bandara dalam
pengelolaan AP II belum mengadopsi NA secara terpadu.

“ Hampir semua bandara untuk operasi saja. Contoh, kalau ke
Soekarno- Hatta ke Terminal A atau B, itu penumpang langsung boarding dan terbang. Beda dengan
Singapura. Misal, mau ke Terminal A itu, orang dipaksa melihat toko-toko, baru
bias menuju gate penerbangan. Karena
itu nanti, selain meningkatkan kapasitas, kami juga memberikan space yang cukup bagi non aeronautika,”
papar Edie. Pada Terminal III dan Kuala Namu sudah dirancang untuk memperbanyak
ruang untuk non-aeronautika.

KARGO  

Selain angkutan penumpang, angkutan kargo saat ini tak luput
dari perhatian manajemen AP II. Terlebih di dunia, kargo udara mengalami
perkembangan yang luar sangat biasa. Di Indonesia, diakui Edie, belum terlalu
bergairah. Masalahnya, jelas Edie, selain pihak pengelola bandara belum siap,
banyak pula pelaku usaha belum memanfaatkan secara maksimal pengiriman kargo
melalui udara. Edie mengambil contoh bandara di Hong Kong, Dimana Hong Kong
merupakan terbesar di dunia dalam dalam hal kargo udara. Setiap tahun,
bandaranya mampu melayani kargo udara sebesar 3,1 juta ton per tahun. “kita itu
baru 300 ribu ton per tahun,” kata Edie.

Terkait dengan perubahan paradigm di bisnis kebandaraan, AP
II pun memiliki cita-cita besar dalam bisnis kargo udara. Yaitu, membangun
terminal kargo.dalm terminal ini, nantinya barang yang masuk sudah melalui ULD
(Unit Lot Devices), lalu masuk container pesawat. “ Terminal ini juga akan
dilengkapi Electronic Data Information (EDI), sehingga orang tinggal masukan
nomor suratnya, sudah jelas,barangnya ada dimana. Ini sedang kita kerjakan.
Semua ini hamper dilakukan oleh Singapura. Jadi barang kita pergi dalam karton
atau dus. Lalu di Singapura dipisahkan sesuai dengan Negara tujuan. Kalau
Singapura bisa, kenapa kita tidak lakukan itu,” paparnya.

Manajemen AP II optimis,jika terminal kargo itu siap, maka
secara otomatis pesawat kargo akan datang. Dengan datangnya pesawat kargo,
diyakini akan menumbuhkan bisnis Airlines. “silahkan barang-barang dari
Surabaya atau Manado datang kesini,lalu masukkan ke ULD. Lalu ditumpuk dan
diatur,sehungga nantinya tidak hanya airport
business
, tapi betul-betul mengubah system pengiriman di Indonesia,”
imbuhnya.

Orang no satu di AP II ini, pernah bertemu dengan petani ikan
arwana di Pontianak. Ternyata, setiap tahun petani itu mampu mengekspor ikan
arwana ke mancanegara dengan nilai Rp 30 miliar.lalu ditanyakan tentang masalah
pengangkutan, ternyata petani itu baru sebatas memanfaatkan pengiriman dengan
kargo laut. Kemudian Edie menjelaskan, jika pengiriman dengan kargo udara, maka
pengiriman akan jauh lebi cepat, dan dampaknya bias meningkatkan volume ekspor,
serta meningkatkan usahanya.

Dengan demikian, jika kargo udara dapat dikembangkan, bukan
hanya akan meningkatkan kinerja AP II, melainkan juga akan menumbuhkan dunia
usaha secara keseluruhan. Karena itu, manajemen AP II akan mengajukan kajian
dan sosialisasi dengan pihak terkait, seperti Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai, Departemen Perdagangan,dan Departemen Perindustrian. Hanya saja,untuk
mewujudkan rencana tersebut, manajemen AP II tak bias melakukannya sendiri.
Melainkan harus melibatkan banyak institusi lainya. Jika dukungan sudah
mengalir dan masing-masing pihak siap, tentunya pihak manajemen AP II akan
menyiapkan lahan. Edie mengungkapkan, di atas lahan itu nantinya akan dibangun Cargo Village. Dimana didalamnya
terdapat terminal kargo yang sangat besar, dan didukung dengan fasilitas yang
serba modern.

AEROTROPOLIS   

Jika semua impian AP II tersebut dapat terwujud, menurut
Edie, jelas akan mengubah paradigma 
bisnis yang ada. “ anda bisa lihat sendiri Bandara di Hong Kong atau
Singapura, itu tak ubahnya seperti mall yang ada landasannya,” kata pria yang
selalu berbicara lantang ini. Edie mengungkapkan, bahwa dalam industri airport
service,telah terjadi pergeseran paradigma. Yaitu, selama ini bandara itu
adalah pendapatannya dari airlines. “Airlines-nya berkembang, bandara juga berkembang.
Jadi dalam tanda petik,usaha kita itu sangat tergantung pada industri airlines.kalau bisnis airlines tumbuh 8-10 persen, sebesar itu
pula pertumbuhan usaha kita. Nah,
ini harus kita ubah,” tegasnya.

Dalam pandangan Edie, jika frame bisnis selalu dilihat
seperti itu. Padahal, sudut pandang seperti itu bisa diubah. Bahwa, pendapatan airlines sesungguhnya juga bisa di-create dari bisnis yang dijalankan AP II. “Contoh,sekarang ini bikin
terminal kargo yang bagus. Warehousing yang bagus. System packing dan
sebagainya yang bagus. Maka orang dengan mudah menjemput barang itu. Jadi, tak
hanya airlines meng-creat pendapatan AP II, tetapi
pendapatan AP II juga mampu meng-creat pendapatan
airlenes, “ sergahnya.

Lebih lanjut, orang nomor satu di AP II ini berangan-angan,
nantinya disetiap bandara ada conference
rooms
yang representative dan
ada club house  yang bagus, maupun fasilitas lainnya yang
standar internasional. Jika itu bisa terwujud, maka bandara akan menjadi
pilihan terbaik bagi para pebisnis untuk bertemu dan melobi.”Karena disini dia
tidak hanya bertemu,tapi juga mendatangkan bisnis bagi airlenes. ini paradigma yang harus kita tambahi,” ujarnya.

Selain paradigma tadi paradigma lain yang harus
diubah,menurut Edie, bahwa bandara ini tidak stand alone, melainkan harus dibangun dan dikembangkan secara
terintegrasi dengan bisnis lainnya secara network.
Yakni,melengkapi bandara dengan fasilitas lainnya, sehingga laiknya bandara
sebagai sebuah kota yang terkait dengan bidang penerbangan aerotropolis. “Ke
depan, arahnya bandara tidak lagi sekedar untuk penerbangan, tapi kita bisa
membuat suatu aerotropolis. Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan penerbangan
ada disitu,” tandas Edie.

KERETA API   

Langkah lainnya yang tengah disiapkan pihak manajemen AP
II,tentu saja masalah akses. Seperti bandara Soekarno-Hatta,selama ini akses
menuju bandara sangat terbatas. Keluhan yang mengemuka, pengguna jasa
tansportasi harus terburu-buru menuju Cengkareng, jika tak ingin terjebak kamacetan.
Maklum,kemacetan di ibukota, termasuk di jalan tol, kerap unpredictable, sulit di duga. Kemacetan bisa terjadi kapan saja,
entah pagi, siang dan malam. Sementara waktu sangat mepet, belum lagi harus check
in dan pass boarding.

Untuk mempercepat akses yang semakin mudah dan efisien, AP II
saat ini tengah menyiapkan akses lainnya, yaitu malalui jalur kereta api.
“Impian kami, di Jakarta itu nantinya akan ada airport tanpa landasan. Disitu
penumpang bisa taru mobil, chek in, mengurus
bagasi. Begitu selesai tinggal naik kereta dan membawa boarding pass. Lalu
begitu tiba di Cengkareng, dia langsung masuk terminal. Ini cita-cita kita,”
tutur Edie. Idealnya, menurut Edie, ketika volume penumpang semakin meningkat
seperti di Soekarno-Hatta, maka sudah sepatutnya bandara memiliki layanan modal
kereta api, sebagaimana di Malaysia maupun Hong Kong. Dimana di kedua bandara
yang dimiliknya,terdapat moda transportasi kereta api, sehingga akses semakin
mudah dan cepat.

Langkah yang ditempuh AP II, tak berarti BUMN ini akan
memasuki bisnis perkeretaapian. Manajemen AP II tetap focus pada bisnis
bandara. Sementara bisnis perkeretaapian tetap pada PT Kereta Api (KA). “ Kita
hanya menjalin kerja sama dengan PT KA,” tandasnya. Langkah konkrit yang telah
dilakukan adalah dengan membentuk badan usaha baru, yakni PT RailLink.
“Share-nya, kami 40 persen, dan PT KAI 60 persen,”ungkap Edie.diprediksi pada
2009, akses ini sudah bisa dimanfaatkan para pengguna jasa moda transportasi
udara.

“Banyangkan seorang penumpang, dari Medan sampai Jakarta,
lalu mau naik KA ke Yogya atau ke Cirebon atau Bandung. Dari Medan Naik
pesawat, sampai Cengkareng naik KA ke Kota,dan tinggal naik kereta api jurusan
Bandung atau ke Cirebon. “Nantinya, kita bersama KAI membangun stasiun di
Sudirman, Duku atas. Itu yang akan kita bangun. Lalu gabung ke Manggarai dan
terus ke Kota,”papar Edie. “ ini semua untuk pelayanan dan kemudahan,”
imbuhnya.

KERJASAMA DENGAN PEMDA   

Selain meningkatkan kapasitas bandara yang ada, AP II juga
tak menutup diri untuk menjalin kerjasama dengan beberapa pemerintah daerah
(pemerintah provinsi, Kota, maupun Kabupaten) yang berkeinginan memiliki
bandara. Hanya saja, seirinh dengan pemekara wilayah dan adanya otonomi daerah,
banyak daerah kerap berlebihan dalam keinginan memiliki bandara.”Semua pemda
ingin bandaranya bisa di darati Boeing 747. Termasuk untuk embarkasi haji. Ini
yang harus dipahami teman-teman di daerah. Lha kapan 747 itu datang. Itu kan
investasi tidak sedikit. Bukan maksud saya menentang, tapi bagaimanapun kita
ini BUMN. Jadi semuanya ada hitungannya. Wong amanahnya itu kok,” serga Edie.

Edie memberi contoh, untuk embarkasi haji itu kalau
menggunakan Boeing 747, berarti landasan pacu bandara (run Way) setidaknya
sepanjang 3000 meter. Sementara kalau landasan pacunya hanya sekitar 2000
meter, berarti harus diperpanjang agar menjadi 3000 meter. Itu artinya, harus
ada investasi untuk  memperpanjang
landasan pacu. Padahal  investasi untuk
itu tidak sedikit. Sementara, pengembalian investasi dibutuhkan waktu yang
sangat panjang, “ Karena Pemda ingin meningkatkan layanannya kepada masyarakat,
ya Pemda yang bangun > lalu pendapatannya untuk Pemda, mari kuta sharing,”
ajaknya.

Saat ini yang tengah dalam pembahasan untuk dijalin kerja
sama dengan pemerintah daerah, adalah dengan provinsi kepulauan Riau, yang
beribukota Tanjung Pinang. Di ibukota Provinsi ini hanya terdapat bandara
kecil. Dimana dalam satu minggu baru terlayani tiga kali penerbangan. Inilah
kesulitan yang dihadapi pihak manajemen AP II. Di satu sisi,ingin mengakomodir
keinginan pihak daerah, disisi lain hitungan bisnis tidak masuk. Terlebih jika
investasi di bebankan kepada AP II.”Jadi sulit sekali menjelaskan. Saya sering
katakan, bahwa pesawat itu datang tidak selalu karena bandaranya bagus, tapi
karena memang penumpangnya ada. Tapi sebagai ibukota, ya wajar kalau ingin
punya bandara yang bagus. Kalau begitu ka nada dua kepentingan yang berbeda.
Idealnya mari kita duduk,lalu hitung. Di sana dapat berapa, di sini dapat
berapa,” papar Edie.

PRIVATISASI

Mengenai privatisasi, yang belakangan ini kerap dilakukan
pemerintah dalam melepas sejumlah sahamnya di sejumlah BUMN, Edie menilai,
dalam privatisasi sesungguhnya ada dua hal yang ingin dicapai, yaitu mendapatkan
dana segar untuk disetor ke Negara atau ingin nilai tambah investor. Itu
artinya, jika ingin mendapatkan dana dari masyarakat, berarti ada pemasukan
kepada Negara. Padahal pihak AP II sendiri sedang membutuhkan banyak dan untuk
pengembangan kapasitas yang dimilkinya.” Jadi harusnya ini (pengembangan) beres
dulu, menjadi cantik, baru dilepas, itu yang ada dalam pikiran kita. Kalau
strategic investor, ya oke,” sergahnya.

Selain itu dalam upaya privatisasi atau penawaran saham ke
publik juga masih dihadapkan sejumlah persoalan. Salah satunya,dalam Rancangan
Undang-Undang Penerbangan (RUU), masih ada ganjalan, dimana masalah air traffic service (ATS) dan tower
pemanduan, kelak tak ada lagi kewenangan Angkasa Pura, melainkan langsung ada
dalam kewenangan pemerintah. Selain itu, jika RUU tersebut di sahkan, nantinya
dimungkinkan akan adanya bandara swasta. “ Nah kalau kita bicara go public
sekarang ini, selagi ATS masih di dalam proses, ya itu akan sulit,” tandas
pucuk pimpinan AP II, yang belum lama mendapatkan penghargaan Musium Rekor
Indonesia (MURI), karena berhasil menyelenggarakan minum susu ramai-ramai
dengan peserta terbanyak.                    

Source :



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

: *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>