Minggu, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi PT Angkasa Pura II (PERSERO) : "Menjadi pengelola bandar udara bertaraf internasional yang mampu bersaing di kawasan regional"

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

Bagaimana menurut pendapat Anda mengenai pelayanan yang diberikan oleh PT Angkasa Pura II (Persero) ketika anda berada di Bandara yang kami kelola?

View Results

Loading ... Loading ...

Layanan

Layanan

Pelayanan Jasa Penerbangan

Pelayanan lalu lintas udara adalah salah satu bisnis utama Angkasa Pura II, dalam melaksanakan aktivitasnya tersebut, Angkasa Pura II sebagai Air Navigation Service Provider (ANSP) senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pelayanannya baik dari fasilitas, prosedur kerja maupun kemampuan personil, sehingga mampu melaksanakan misinya untuk mengelola jasa pelayanan lalu lintas udara yang mengutamakan keselamatan penerbangan dan kepuasan pelanggan.

Sesuai dengan Airspace Structure Master Plan bahwa Flight Information Region (FIR) di Indonesia berubah dari 4 (empat) menjadi 2 (dua) yaitu Jakarta FIR dan Ujung Pandang FIR. Dampak dari restrukturisasi ruang udara ini adalah pemindahan Area Control Centre (ACC) Medan ke Jakarta; dengan demikian maka Medan yang tadinya mempunyai status sebagai Centre secara bertahap dialihkan ke Jakarta; dimulai dengan pemindahan Upper Medan East dan kemudian Upper Medan West; beberapa tahapan yang dilalui adalah trial operation, shadow operation dan full operation.

Pada tanggal 17 Agustus 2007 seluruh tahapan perpindahan Medan ACC ke Jakarta ACC telah selesai dan mulai saat itulah seluruh kendali pengontrolan dilakukan di Jakarta. Dengan demikian seluruh pengendalian lalu lintas udara di wilayah Indonesia bagian Barat dikendalikan oleh Area Control Centre (ACC) Jakarta yang memberikan pelayanan lalu lintas udara dari ketinggian 245.000 feet sampai dengan 41.000 feet. Dampak positif dari bergabungnya Medan ACC ke Jakarta ACC dalah peningkatan pelayanan dan koordinasi inter dan antar ACC dapat lebih efektif dan efisien, sehingga keselamatan penerbangan (flight safety) lebih terjamin. Dengan berubahnya struktur ruang udara lapis atas, maka hal ini juga akan berdampak pada struktur ruang udara lapis bawah di Medan dan Banda Aceh. Dengan alasan untuk meningkatkan pelayanan maka di Banda Aceh yang tadinya hanya Aerodrome Service, maka akan ditingkatkan menjadi Approach Control Service yang memberikan pelayanan lalu lintas udara dari ground sampai dengan ketinggian 15.000 feet.

Untuk meningkatkan pelayanan dan optimalisasi ruang udara, Angkasa Pura II bekerja sama denga LAPI ITB memasang RDPS (Radar Data Processing System) di Bandara Polonia Medan yang sekarang dalam tahapan trial operation; hal serupa juga dilakukan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang yaitu pemasangan FDPS (Flight Data Processing System) dan RDPS (Radar Data Processing System); investasi besar ini dilakukan Angkasa Pura II untuk mampu melaksanakan misinya sebagai pengelola jasa pelayanan lalu lintas udara yang mengutamakan keselamatan penerbangan dan kepuasan pelanggan.

Selain dari pada itu terkait dengan pelayanan lalu lintas udara, di tahun 2007 ini telah dibuka route baru yaitu L 896 dan L 897 yang dikenal dengan flexible track sebagai route transisi yang menghubungkan Australia dan Eropa. Route ini memanfaatkan fenomena alam sebagai jet stream tunnel/tail wind (angin buritan). Beberapa perusahaan penerbangan yang sudah menggunakan fasilitas route ini adalah Qantas Airways, Uni Arab Emirate Airlines dan ETIHAD.

Dalam rangka memenuhi persyaratan ICAO tentang English Proficiency bagi personil ATC dan Pilot yang diwajibkan mempunyai Minimal Operational Rating Scale (Level 4) tahun 2008, Angkasa Pura II sebagai Air Navigation Service Provider (ANSP) bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Udara Departemen Perhubungan melaksanakan Mapping Test serta Training ICAO English Proficiency yang diikuti oleh 386 orang ATC. Mapping Test diselengarakan untuk mengetahui tingkat kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang merupakan bahasa baku dalam pelayanan keselamatan penerbangan. Bagi personil yang belum mencapai minimal level 4 maka diwajibkan untuk mengikuti Training ICAO English Proficiency, untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris bagi personil ATC terutama plain language sangat mutlak dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan para pilot domestik maupun internasional.

Pelayanan lalu lintas udara adalah salah satu bisnis utama Angkasa Pura II, dalam melaksanakan aktivitasnya tersebut, Angkasa Pura II sebagai Air Navigation Service Provider (ANSP) senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pelayanannya baik dari fasilitas, prosedur kerja maupun kemampuan personil, sehingga mampu melaksanakan misinya untuk mengelola jasa pelayanan lalu lintas udara yang mengutamakan keselamatan penerbangan dan kepuasan pelanggan.

Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara

Selama tahun 2007, rata-rata jumlah penumpang domestik dan internasional di 12 bandara yang dikelola Angkasa Pura II meningkat masing-masing sebesar 9,5% dan 3% dibanding dengan tahun 2006. Hal ini seiring dengan berkembangnya perusahaan penerbangan dengan konsep low cost carrier yang menyebabkan beralihnya pengguna moda transportasi lain ke moda transportasi udara menyebabkan timbulnya kepadatan di terminal penumpang, terutama pada saat peak season, seperti Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, menyusul pengoperasian terminal baru Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, pada tahun 2007 telah dibangun terminal baru di Bandara Sultan Iskandarmuda. Sementara di Bandara Soekarno-Hatta, telah dilakukan percepatan pembangunan Terminal 3 yang direncanakan dapat menampung sebanyak 4 juta penumpang dalam setahun, untuk mengurangi tingkat kepadatan di Terminal 1. Sementara itu, proses pembangunan bandara Medan baru Kualanamu sebagai pengganti Bandara Polonia sudah dimulai.

Kenaikan jumlah penumpang yang cukup besar ini juga menuntut adanya peningkatan pelayanan, khususnya kepada para penumpang pesawat udara. Beberapa hal yang telah dilakukan Angkasa Pura II dalam meningkatkan kualitas pelayanan, diantaranya adalah pemberlakuan sistem common use check-in counter, yang memungkinkan penggunaan fasilitas check-in counter secara bergantian oleh perusahaan penerbangan sehingga dapat mengurangi antrian penumpang pada saat check-in, perubahan pintu masuk dan penambahan jumlah X-Ray (screening check point) sebagai upaya untuk mengurangi panjang antrian di pintu masuk. Penggunaan barcode dalam proses verifikasi PSC (passenger service charges) juga telah diberlakukan di beberapa bandara yang dikelola. Angkasa Pura II juga telah melakukan peremajaan dan penambahan beberapa fasilitas di bandara, diantaranya toilet, taman, selasar terminal, musholla serta perbaikan interior bangunan terminal.

Akurasi data dan kecepatan dalam pemberian layanan informasi kepada para pengguna jasa bandara merupakan hal yang mutlak diperlukan. Karenanya, dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para calon penumpang, pada tahun 2007 Angkasa Pura II telah mengganti sistem informasi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta dari sistem lama CIS (Centralized Information System) ke sistem yang lebih baru FIS (Flight Information System) yang dapat membantu penumpang maupun calon penumpang untuk memperoleh informasi tentang jadwal penerbangan dan lokasi terminal dari penerbangan yang digunakan. Diharapkan sistem yang baru ini dapat meningkatkan kinerja operasional bandara dan para calon penumpang pesawat udara dapat merasakan manfaatnya.

Di Bandara Soekarno-Hatta, Angkasa Pura II menyediakan beberapa pilihan jasa angkutan pemadu moda, bagi para penumpang yang ingin melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan transportasi darat. Selain itu juga dilakukan penambahan jalur kendaraan di depan lobby terminal guna mengurangi kepadatan arus lalu-lintas.

Pada tahun 2007 juga telah diperkenalkan pembelian tiket pesawat melalui ATM (hasil kerjasama maskapai penerbangan domestik dengan sebuah Bank Pemerintah) yang struknya dapat digunakan untuk proses check-in.

Pelayanan Penerbangan Haji

Ibadah Haji merupakan salah satu kewajiban bagi para pemeluk agama Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, setiap tahun puluhan ribu jemaah calon haji berangkat ke Tanah Suci Mekah pada musim haji dengan menggunakan sarana transportasi udara melalui beberapa bandara yang khusus ditunjuk untuk keperluan tersebut. Pada tahun 2007, Angkasa Pura II melakukan pelayanan pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji melalui Bandara Sultan Iskandarmuda, Polonia, Minangkabau, Sultan Mahmud Badaruddin II dan Soekarno-Hatta.

Pelayanan pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji pada tahun 2007 telah dilaksanakan selama dua kali, mengingat bahwa musim haji Tahun 1427 H jatuh pada awal tahun 2007 dan musim haji tahun 1428 H jatuh pada akhir tahun 2007. Untuk penerbangan haji tahun 1427 H, jumlah jemaah yang berangkat dari bandara yang dikelola Angkasa Pura II sebanyak 84.489 orang yang terdiri dari 206 kelompok terbang (kloter). Sementara pada penerbangan haji tahun 1428 H, jumlah jemaah yang diberangkatkan tidak terlalu berbeda, yaitu 84.800 orang dengan 206 kelompok terbang. Hal ini terjadi mengingat alokasi quota jemaah haji Indonesia memang telah ditetapkan sebelumnya

Pelayanan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

Kegiatan pemberangkatan dan pemulangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di bandara-bandara selain Soekarno-Hatta, relatif berjalan lancar dan terkendali karena jumlahnya sangat sedikit. Lain halnya dengan di Bandara Soekarno-Hatta, setiap hari terdapat ratusan TKI yang datang dan pergi.

Jumlah TKI yang banyak tersebut tentunya menimbulkan permasalahan tersendiri dan memerlukan penanganan khusus yang dapat memuaskan seluruh pihak, baik bagi para TKI itu sendiri, keluarganya maupun pihak-pihak lain yang selama ini memanfaatkan keberadaan TKI sebagai sumber mata pencaharian. Untuk maksud tersebut, Angkasa Pura II telah membangun gedung pendataan TKI yang baru yang lokasinya masih di area bandara, dengan fasilitas yang lebih baik dan nyaman. Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan keberangkatan dan kedatangan TKI melalui Bandara Soekarno-Hatta dipusatkan di gedung baru ini.

Pelayanan Pengamanan Bandara

Untuk mewujudkan terciptanya keamanan, keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan, diperlukan kondisi bandara yang aman dan kondusif. Angkasa Pura II telah menyediakan berbagai fasilitas keamanan dan pengamanan di bandara guna menjamin terselenggaranya kegiatan operasional penerbangan yang aman, selamat dan lancar, diantaranya adalah mesin X-Ray, Walk Through Metal Detector, Handheld Metal Detector, Bomb Blanket, CCTV dan lain-lain. Di samping itu, untuk penerbangan internasional diberlakukan pembatasan terhadap barang-barang bawaan penumpang yang mengandung cairan, aerosol dan gel. Pembatasan tersebut dimaksudkan untuk memastikan agar barang-barang penumpang tersebut tidak terbawa masuk ke dalam cabin dan digunakan sebagai senjata untuk mengancam keselamatan penerbangan.

Sistem keamanan dan pengamanan yang diberlakukan di bandara adalah sebagaimana yang diatur oleh ICAO dalam Annex-17 tentang Security dan Document-8973 tentang Security Manual for Safeguarding Civil Aviation Against Acts of Unlawful Interference, bahwa sistem keamanan dan pengamanan di bandara harus dilakukan secara maksimal, dengan menggunakan peralatan dan prosedur yang memadai agar dapat menjamin keselamatan dan kelancaran penerbangan. Selain itu juga diatur bahwa seluruh penumpang, bagasi dan kargo yang akan diangkut pesawat udara, harus dapat dipastikan steril dan bebas dari terangkutnya barang-barang dan hal lainnya yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.

Kegiatan penerbangan selalu dimulai dan diakhiri di bandara, sehingga kondisi bandara yang aman merupakan salah satu persyaratan mutlak guna terwujudnya keselamatan penerbangan. Dalam melaksanakan pelayanan pengamanan bandara, Angkasa Pura II menggunakan metoda, sistem dan prosedur pengamanan sesuai standar yang telah ditentukan, baik nasional maupun internasional. Di samping itu, juga dilakukan kerjasama dengan TNI dan Polri serta instansi pengamanan lainnya yang terkait guna lebih memaksimalkan kinerja pengamanan di bandara. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan personil, serta perbaikan dan penyempurnaan terhadap peralatan dan prosedur pengamanan yang digunakan, secara berkala selalu ditingkatkan. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk antisipasi terhadap setiap bentuk ancaman dan ganggungan keamanan di bandara yang pada akhirnya dapat mengganggu keselamatan dan kelancaran penerbangan. Dengan demikian, diharapkan para penguna jasa bandara dapat melakukan aktivitasnya secara aman dan nyaman.

Pelayanan PKP-PK

Untuk mengantisipasi adanya kecelakaan pesawat udara di bandara, Angkasa Pura II menyediakan pelayanan PKP-PK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran) yang kemampuannya, baik personil maupun peralatannya, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kategori bandara sebagaimana dipersyaratkan.

Setahun sekali Direktorat Keselamatan Penerbangan melakukan audit terhadap kesiapan, kehandalan dan kemampuan PKP-PK di seluruh bandara yang dikelola Angkasa Pura II. Audit ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara kondisi di lapangan dengan ketentuan yang dipersyaratkan. Kelengkapan fasilitas, personil dan prosedur operasi yang digunakan dalam pelayanan PKP-PK secara bertahap selalu ditingkatkan guna menjamin terpenuhinya response time yang telah ditentukan dalam rangka pertolongan kecelakaan pesawat udara di bandara.

Penanggulangan Gawat Darurat

Kecelakaan pesawat udara adalah hal sama sekali tidak kita inginkan. Namun jika ini harus terjadi di bandara, maka Angkasa Pura II telah siap mengantisipasi dan memberikan pertolongan guna menyelamatkan para penumpang, sekaligus menghindari kerugian yang lebih besar sebagai dampak dari suatu kecelakaan.

Selama tahun 2007, Angkasa Pura II telah mengadakan latihan Penanggulangan Gawat Darurat (PGD) dengan skala besar (fullscale emergency exercise) sebanyak empat kali, yaitu di Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Supadio dan Sultan Iskandarmuda. Latihan ini, selain untuk memenuhi ketentuan, juga dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesiapan, baik personil, peralatan, maupun prosedur yang digunakan serta koordinasi antar unit kerja dan dengan instansi terkait, yang diperlukan jika kondisi gawat darurat benar-benar terjadi di bandara. Seluruh potensi yang berada di dalam bandara maupun luar bandara, khususnya yang tergabung dalam Airport Emergency Committee, turut berperan aktif dalam dalam setiap latihan PGD yang dilakukan setiap dua tahun sekali. Skenario latihan yang digunakan dalam latihan PGD, selalu berubah disesuaikan dengan trend ancaman pada saat itu. Tetapi pada umumnya, pada setiap skenario latihan selalu terdapat simulasi ledakan dan kecelakaan pesawat yang memerlukan pelayanan PKP-PK. Dari latihan PGD tersebut akan terlihat kemampuan bandara dalam mengantisipasi dan memberikan pertolongan jika terjadi kondisi gawat darurat di bandara.

Pelayanan Penunjang Bandara

Pelayanan penunjang bandara dilakukan di dalam terminal penumpang, seperti penyediaan fasilitas komersial dan pelayanan kargo.

Pelayanan jasa penyediaan fasilitas komersial di dalam terminal dilakukan dengan bekerjasama dengan mitra usaha yang telah memiliki pengalaman dalam melakukan kegiatan tersebut. Dengan semakin meningkatnya pengguna jasa bandara, Angkasa Pura II melakukan penataan fasilitas komersial di dalam terminal sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal tanpa mengurangi pelayanan yang diberikan kepada penumpang pesawat udara.

Pelayanan Kargo

Sejak tahun 2005, pelayanan kargo di bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura II mulai dibenahi. Akhir tahun 2006, merupakan momentum Angkasa Pura II untuk melaksanakan pelayanan kargo di Bandara Soekarno-Hatta. Mulai tanggal 1 Januari 2007, Angkasa Pura II melakukan pelayanan pemeriksaan kargo yang akan diberangkatkan melalui Bandara Soekarno-Hatta. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menjamin terlaksananya tugas dan tanggung jawab Angkasa Pura II sebagai pengelola bandara yang bertugas untuk menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan serta kelancaran dalam pelayanannya.

Setelah penanganan kegiatan operasional kargo dilakukan oleh Angkasa Pura II, terlihat adanya peningkatan pelayanan dan keamanan di area pergudangan kargo. Hal ini telah memacu peningkatan volume arus barang melalui bandara yang dikelola Angkasa Pura II. Pada tahun 2007, jumlah kargo yang melewati 12 bandara Angkasa Pura II adalah sebanyak 455.482 ton, atau naik 1,7 % jika dibandingkan tahun 2006. Untuk mencegah terangkutnya barang-barang berbahaya (dangerous goods) masuk ke dalam pesawat, maka pada tahun 2007 hampir seluruh gudang kargo Angkasa Pura II telah dilengkapi dengan mesin X-Ray lengkap dengan personilnya yang telah bersertifikat dan memiliki pelatihan di bidang pengamanan penerbangan (aviation security).