Sunday, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi PT Angkasa Pura I (Persero) : "Menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan pengelola bandar udara terbaik di Asia."

Achievements

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

Sekilas PT Angkasa Pura I (Persero)

Visi:
Menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan pengelola bandar udara terbaik di Asia.

Misi:
Meningkatkan nilai pemangku kepentingan
Menjadi mitra pemerintah dan pendorong pertumbuhan ekonomi
Mengusahakan jasa kebandarudaraan melalui pelayanan prima yang memenuhi standar keamanan, keselamatan, dan kenyamanan
Meningkatkan daya saing perusahaan melalui kreatifitas dan inovasi
Memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan hidup

Nilai-nilai:
Sinergi
Adaptif
Terpercaya
Unggul

Sejarah Perusahaan
PT Angkasa Pura I (Persero) – selanjutnya disebut Angkasa Pura Airports – bertekad mewujudkan perusahaan berkelas dunia yang profesional. Angkasa Pura Airports yakin dapat melakukan yang terbaik dengan memberikan pelayanan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan berstandar internasional bagi para pelanggan.

Sejarah Angkasa Pura Airports sebagai pelopor pengusahaan kebandarudaraan secara komersial di Indonesia bermula dari kunjungan kenegaraan Presiden Soekarno ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan Presiden John F Kennedy. Setibanya di tanah air, Presiden Soekarno menegaskan keinginannya kepada Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum agar lapangan terbang di Indonesia dapat setara dengan lapangan terbang di negara maju.

Tak lama kemudian, pada tanggal 15 November 1962 terbitlah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 1962 tentang Pendirian Perusahaan Negara (PN) Angkasa Pura Kemayoran. Tugas pokoknya adalah untuk mengelola dan mengusahakan Pelabuhan Udara Kemayoran di Jakarta yang saat itu merupakan satu-satunya bandar udara internasional yang melayani penerbangan dari dan ke luar negeri selain penerbangan domestik.

Setelah melalui masa transisi selama dua tahun, terhitung sejak 20 Februari 1964 PN Angkasa Pura Kemayoran resmi mengambil alih secara penuh aset dan operasional Pelabuhan Udara Kemayoran Jakarta dari Pemerintah. Tanggal 20 Februari 1964 itulah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Angkasa Pura Airports.

Pada tanggal 17 Mei 1965, berdasarkan PP Nomor 21 tahun 1965 tentang Perubahan dan Tambahan PP Nomor 33 Tahun 1962, PN Angkasa Pura Kemayoran berubah nama menjadi  PN Angkasa Pura, dengan maksud untuk lebih membuka kemungkinan mengelola bandar udara lain di wilayah Indonesia.

Secara bertahap, Pelabuhan Udara Ngurah Rai – Bali, Halim Perdanakusumah – Jakarta, Polonia – Medan, Juanda – Surabaya, Sepinggan – Balikpapan, dan Sultan Hasanuddin – Ujungpandang, kemudian bergabung dalam pengelolaan PN Angkasa Pura.

Selanjutnya, berdasarkan PP Nomor 37 tahun 1974, status badan hukum perusahaan diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum).

Dalam rangka pembagian wilayah pengelolaan bandar udara, berdasarkan PP Nomor 25 Tahun 1987 tanggal 19 Mei 1987, nama Perum Angkasa Pura diubah menjadi Perusahaan Umum Angkasa Pura I, hal ini sejalan dengan dibentuknya Perum Angkasa Pura II yang secara khusus diberi tugas untuk mengelola Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma.

Selanjutnya, berdasarkan PP Nomor 5 Tahun 1992, bentuk Perum diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) yang sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh Negara Republik Indonesia sehingga namanya menjadi PT Angkasa Pura I (Persero) dengan Akta Notaris Muhani Salim, SH tanggal 3 Januari 1993 dan telah memperoleh persetujuan Menteri Kehakiman dengan keputusan Nomor C2-470.HT.01.01 Tahun 1993 tanggal 24 April 1993 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 52 tanggal 29 Juni 1993 dengan Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 2914/1993.

Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan terakhir adalah berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 14 Januari 1998 dan telah diaktakan oleh Notaris Imas Fatimah, SH Nomor 30 tanggal 18 September 1998. Perubahan Anggaran Dasar tersebut telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: C2-25829.HT.01.04 Tahun 1998 tanggal 19 November 1998 dan dicantumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 50 tanggal 22 Juni 1999 dengan Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 3740/1999.

Hingga saat ini, Angkasa Pura Airports mengelola 13 (tiga belas) bandara di kawasan tengah dan timur Indonesia, yaitu:

Bandara Ngurah Rai – Denpasar
Bandara Juanda – Surabaya
Bandara Hasanuddin – Makassar
Bandara Sepinggan – Balikpapan
Bandara Frans Kaisiepo – Biak
Bandara Sam Ratulangi – Manado
Bandara Syamsudin Noor – Banjarmasin
Bandara Ahmad Yani – Semarang
Bandara Adisutjipto – Yogyakarta
Bandara Adisumarmo – Surakarta
Bandara Internasional Lombok -  Lombok Tengah
Bandara Pattimura – Ambon
Bandara El Tari – Kupang

Seiring dengan pergeseran tren pengelolaan bandara dunia dari “airport as a business” ke konsep “airport city”, sejak 2010 manajemen Angkasa Pura Airports menggulirkan program besar transformasi perusahaan, yang dikenal dengan reposisi dan restrukturisasi bisnis menuju World Class Airport. Dengan demikian, keinginan Presiden Pertama RI untuk menjadikan lapangan terbang di Indonesia dapat setara dengan negara maju selangkah lagi segera menjadi kenyataan.

Transformasi perusahaan mengusung beberapa langkah strategis, antara lain:
Perubahan orientasi dan proses bisnis dengan titik berat sektor non-aeronautika dan kepuasan pelanggan.
Perubahan visi dan misi untuk menjadikan Angkasa Pura Airports sebagai “salah satu dari sepuluh perusahaan jasa kebandarudaraan terbaik di Asia”.
Perubahan nilai-nilai bidaya perusahaan menjadi empat nilai budaya baru yang lebih menggugah, yaitu SATU (Sinergi, Adaptif, Terpercaya, Unggul).
Perubahan corporate identity, meliputi logo, himne, mars, dan corporate colour.
Pengelolaan SDM berbasis Human Capital Management.
Menjalin aliansi startegis dengan Incheon Airport – Korea dan GVK – India yang dikenal sebagai pengelola bandara terbaik di dunia.

Transformasi Angkasa Pura Airports membidik tiga sasaran pokok, yaitu:

  1. Penerapan Performance Management System untuk seluruh lini perusahaan.
  2. Perubahan karakter Angkasa Airports menjadi service company.
  3. Perubahan paradigma dan perilaku pegawai menjadi SDM berkualitas dunia.

Reposisi dan Restrukturisasi; Transformasi Bisnis Angkasa Pura Airports
Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor I tahun 2009 tentang Penerbangan, lingkungan usaha kebandarudaraan telah mengalami perubahan paradigma yang mendasar. PT Angkasa Pura I (Persero) yang sebelumnya mengandalkan pendapatan aeronautical sebagai sumber pendapatan utamanya, ke depan sudah tidak dapat lagi melakukan hal tersebut.

Struktur pendapatan yang terlalu didominasi oleh aeronautical revenues adalah tidak sehat, karena tumbuhnya pendapatan bukan karena bisnis yang diciptakan oleh perusahaan. Perusahaan dalam hal ini hanya menampung, melayani dan mendapatkan bayaran dari pertumbuhan trafik yang terjadi. Fluktuasi produksi atau trafik penumpang, kargo dan pesawat terjadi di luar kontrol Manajemen demikian juga struktur dan golongan tariff ditetapkan oleh pihak Regulator. Terus mengandalkan pada pendapatan aeronautical berarti menempatkan perusahaan pada posisi yang tergantung kepada pihak lain. Oleh karena itu airport terkemuka di dunia terus menerus meningkatkan non aeronautical revenues untuk mengganti dominasi aeronautical revenues dalam rangka menyehatkan struktur pendapatan atau struktur bisnis.

Pendapatan non-aeronautical harus menjadi sumber pendapatan yang dominan pada paradigma bisnis baru PT. Angkasa Pura I (Persero). Hal ini juga sejalan dengan visi world class airport yang menjadi cita-cita perusahaan, dimana hampir semua airport kelas dunia mempunyai pendapatan non-aeronautical yang signifikan.

Selain itu peningkatan kualitas pelayanan menjadi sangat penting untuk dapat menjadi PT Angkasa Pura I (Persero) sebagai world-class airport. Dalam konsep Reposisi & Restrukturisasi ini ditargetkan bahwa Customer Satisfaction Index (CSI) harus meningkat menjadi 5.

Untuk melakukan perubahan paradigma bisnis tersebut, PT. Angkasa Pura I (Persero) telah mencanangkan konsep Reposisi & Restrukturisasi bisnis. Saat ini konsep Reposisi & Restrukturisasi ini menjadi orientasi dalam manajemen melakukan pengembangan perusahaan.

Memperhatikan posisi perusahaan yang jauh tertinggal dan dengan struktur bisnis yang tidak sehat maka upaya perbaikan tidak boleh hanya sekedar optimalisasi tetapi memerlukan transformasi mulai dari cara pandang sampai kepada model bisnis yang diterapkan secara menyeluruh melalui suatu pentahapan yang terencana baik dalam jangka waktu yang panjang. Konsep ini menggambarkan pokok-pokok pemikiran manajemen saat ini tentang mengapa dan bagaimana transformasi itu dilakukan.

Apabila konsep ini dijalankan dan mendapat dukungan sepenuhnya dari pemegang saham, Manajemen yakin bahwa PT Angkasa Pura I (Persero) akan mampu memposisikan dirinya sebagai pengelola airport kelas dunia sesuai dengan visinya dengan struktur bisnis yang kokoh. Bangunan bisnis PT Angkasa Pura I (Persero) di masa depan diyakini akan terlihat seperti Gambar Piramida.

Reposisi dan restrukturisasi dalam konsep ini masih bersifat umum dan bersifat korporasi. Sedangkan reposisi yang sebenarnya adalah reposisi untuk tiap bandara yang dikelola oleh PT. Angkasa Pura I (Persero). Secara garis besar reposisi sesuai dengan fungsi per bandara diterangkan dalam Gambar yang didasarkan kepada KM 11 tahun 2010.