Friday, 18 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi PT Angkasa Pura I (Persero) : "Menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan pengelola bandar udara terbaik di Asia."

Achievements

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

Angkasa Pura Airports Genjot Pendapatan Non-Aeronautika

28 May 2013

JAKARTA - President Director PT Angkasa Pura I (Persero) Tommy Soetomo, mengatakan pihaknya tengah mendongkrak pendapatan dari sektor non-aeronautika atau bisnis di luar pengelolaan kegiatan penerbangan. Tahun ini, sektor non-aeronautika ditargetkan menyumbang 50 persen pada pendapatan perseroan. “Pada 2020, proporsinya meningkat hingga 60 persen,” katanya dalam “Angkasa Pura Airports Marketing Forum 2013″, kemarin (27/05).

Pada 2012, Angkasa Pura Airports meraup pendapatan senilai Rp 3 triliun. Dari jumlah tersebut, pendapatan dari bisnis non-aeronautika mencapai 23,3 persen atau sekitar Rp 700 miliar. Sumbangan terbesar diperoleh dari Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, yakni sebesar Rp 300 miliar. Tahun ini, sumbangan dari sektor bisnis tersebut ditargetkan naik 300 persen menjadi Rp 2,1 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, Angkasa Pura Angkasa Pura Airports meluncurkan proyek pengembangan bandara terpadu selama lima tahun mendatang. Tommy mengatakan perseroan membuka kesempatan kepada para pemilik usaha untuk mengembangkan area komersial bandara. Dalam jangka pendek, ada dua bandara yang akan ditawarkan kepada perusahaan ritail serta food and beverages, yakni Bandara Sepinggan, Balikpapan dan Terminal 2 Bandara Juanda, Surabaya.

Menurut Tommy, pengelolaan area bisnis dua bandara itu dibuka melalui proses tender terbuka. Konsep semacam ini sukses dilakukan oleh Angkasa Pura Airports untuk Bandara Ngurah Rai Bali belum lama ini. “Tendernya sesuai aturan nasional dan internasional,” ujar dia.

Corporate Administration Department Head Angkasa Pura Airports Hary Budi Waluyo menambahkan, perseroan belajar dari Bandara Incheon di Korea Selatan serta GVK yang mengelola Bandara Bengaluru dan Bandara Mumbai di India untuk mengembangkan sektor non-aeronautika. Sektor yang ditargetkan memberi kontribusi signifikan yakni retail, gerai bebas pajak (duty-free), gerai makanan dan minuman, serta layanan jasa. Dari sektor-sektor itu, salah satu yang paling prospektif adalah toko duty-free. Hary mencontohkan, nilai kontrak toko duty-free di Bandara Ngurah Rai mencapai Rp 1,8 triliun selama lima tahun. “Sumbangannya paling besar,” kata dia.

Bagi Angkasa Pura Airports, Hary menambahkan, bisnis non-aeronautika sangat penting untuk memulihkan pendapatan. Setelah pemerintah membentuk Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI), pendapatan perseroan dari lalu lintas penerbangan hilang. “Kami kehilangan pendapatan sebesar Rp 500 miliar dari jasa navigasi,” ujar dia. [Arif Haryanto / Sumber: Koran Tempo]



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

: *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>