ALAT NAVIGASI UDARA DI MALANG DIPERKUAT

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia akan meningkatkan peralatan komunikasi navigasi di Bandara Abdul Rachman Saleh Malang untuk mendukung penerbangan komersial di selatan Jawa.

Wisnu Darjono, Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI)/AirNav Indonesia, mengatakan adanya kebutuhan peningkatan sarana komunikasi itu mengacu dari hasil evaluasi percobaan penerbangan komersial di selatan Jawa.

"Dari evaluasi kemarin, sarana komunikasi di daerah Malang ternyata perlu ditambah atau extended communication range. Ini agar komunikasi lebih baik karena yang menangani nantinya dari Makassar," katanya di Jakarta, Rabu (11/1).

Pada percobaan penerbangan sipil (trial) pertama, lanjutnya, AirNav Indonesia menggandeng maskapai layanan penuh Garuda Indonesia. Pada saat itu, Garuda melakukan percobaan penerbangan di enam rute berbeda.

Enam rute tersebut adalah Jakarta-Denpasar, Jakarta-Lombok Praya, Jakarta-Kupang, Yogyakarta-Denpasar, Yogyakarta-Lombok Praya dan Yogyakarta-Kupang. Dari percobaan tersebut, terlihat ada efisiensi jarak yang cukup signifikan.

"Saya belum melihat, apakah airlines nantinya akan lebih memilih lewat utara atau selatan. Yang pasti, optimum level-nya itu bisa terpenuhi, meski memang terdapat rute yang jaraknya bertambah panjang sedikit," tuturnya.

Selain kebutuhan sarana komunikasi, Wisnu menilai pihaknya juga menemukan kendala lainnya untuk dapat diselesaikan, misalnya dari sisi cuaca dan standar prosedur untuk pendaratan darurat.

Dia menjamin sejumlah kendala yang timbul tersebut akan diselesaikan dalam waktu dekat ini. Alasannya, AirNav Indonesia dan para pemangku kepentingan lainnya akan menggelar percobaan penerbangan kedua pada Januari-Februari 2017.

"Di atas kertas, sebenarnya kita bisa melakukan. Namun, ada hal-hal yang baru kelihatan ketika kegiatan dilakukan. Setelah seluruh laporan masuk, dan SOP [Standard opemting procedure) disiapkan, kami akan uji ulang lagi," ujarnya.

Menurutnya, layanan penerbangan komersial di selatan Jawa harus segera dijalankan mengingat telah ada instruksi langsung dari Presiden Joko Widodo. Dia memperkirakan keputusan sudah akan diambil pada Februari-Maret 2017.

Di sisi lain, pengoperasian jalur selatan Jawa juga sudah mendapatkan kesepakatan dari TNI Angkatan Udara. Penerbangan komersial di selatan Jawa nantinya tidak boleh mengganggu kegiatan militer.

"Jadi dibuka tidaknya jalur ini berkaitan dengan kepentingan dua pihak. Ketika militer sedang latihan, kami tidak akan buka jalur selatan. Kalau libur, baru kami gunakan. Jadi, tidak ada yang namanya menggusur," katanya.

Sekadar informasi, waktu penggunaan jalur penerbangan di selatan Jawa disepakati pukul 16.00 WIB sampai dengan 06.00 WIB. Namun, dia menegaskan kesepakatan penggunaan jalur selatan Jawa itu belum resmi.

BAKAL DIMINATI

Sementara itu, Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengapresiasi upaya pemerintah membuka jalur selatan Jawa untuk penerbangan komersial.

"Saya kira rute ke Denpasar dari Cengkareng, Halim, Bandung, Yogyakarta dan bandara lainnya di Jawa atau Sumatra bakal lebih diminati maskapai karena jam terbang menjadi lebih efisien, dan safety yang lebih baik," tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) Novianto Herupratomo. Dia menilai pembukaan jalur penerbangan selatan Jawa berpeluang menaikkan kapasitas frekuensi terbang pada rute-rute tertentu.

Menurutnya, Garuda siap mengambil peluang dari jalur selatan Jawa tersebut. Bahkan, tidak menutup kemungkinan rencana penerbangan jangka panjang perusahaan milik negara itu akan direvisi apabila jalur selatan Jawa untuk penerbangan komersial dapat terealisasi. (sumber Bisnis Indonesia edisi 12/01)


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel