KBUMN

Sinergi Membangun Negeri

Rabu, 23 April 2014

|Visi Kementerian BUMN “Menjadi Pembina BUMN yang Profesional untuk meningkatkan nilai BUMN” |                                          SMS Kritik & Saran tentang BUMN dan Kementerian BUMN ke 08111-188-188|                                                                                                                Hati Hati dengan penipuan yang mengatasnamakan Pejabat Kementerian BUMN dalam proses pengadaan barang dan jasa. Kementerian BUMN tidak pernah meminta pungutan biaya apapun melalui surat,telepon maupun sms, dalam proses maupun pemenang pengadaan Barang dan Jasa

ReIndo Minta Pemerintah Meningkatkan Modal

10 Juni 2003

Jakarta (Kompas) : Badan Usaha Milik Negara PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo) meminta pemerintah sebagai pemegang saham perseroan untuk menambah modal disetor, dari Rp 62,5 miliar menjadi Rp 100 miliar pada tahun 2003. Tambahan modal sangat diperlukan perseroan untuk meningkatkan kapasitas premi yang dapat ditanggung.

“Sebenarnya total modal disetor yang diinginkan, sebesar Rp 250 miliar. Karena dana pemerintah terbatas, hal itu bisa dilakukan bertahap. Tahap awalnya menjadi Rp 100 miliar dulu. Proposal permohonannya sudah kami sampaikan ke Departemen Keuangan,” kata Direktur Utama ReIndo Hendrisman Rahi, Jakarta, Senin (9/6).

Vice President Division Head ReIndo Pramono Margono menambahkan, saat ini, perseroan hanya bisa mengandalkan tambahan modal dari pemegang saham. Alternatif pendanaan lain seperti penawaran saham perdana ke publik atau penerbitan obligasi, sulit dilakukan.

“Saat ini saham-saham perusahaan asuransi tidak menarik bagi pasar. Penerbitan surat utang juga hanya akan menambah beban karena pada dasarnya perseroan sudah menanggung utang klaim” katanya.

Di sisi lain, tanpa adanya penambahan modal, ReIndo tidak bisa memperbesar premi karena tingkat solvabilitasnya hanya 81,54 persen. Padahal, tingkat solvabilitas minimun yang ditetapkan pemerintah sampai tahun 2003 adalah 100 persen.

Sampai tahun 2002, premi mencapai Rp 399,7 miliar. Dari nilai itu 30 persen direasuransikan lagi ke luar negeri.

Hendrisman mengatakan, saat ini, kapasitas reasuransi lokal tidak bisa menutup seluruh premi perusahaan asuransi. Akibatnya, perusahaan asuransi, baik umum maupun jiwa, terpaksa mereasuransikan preminya ke luar negeri.

“Akibatnya, defisit premi di Indonesia mencapai sekitar Rp 1,3 triliun,” kata Hendrisman.

Laba bersih perseroan pada tahun 2002 sebesar Rp 17,6 miliar, meningkat 200,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Investasinya Rp 124,95 miliar. Sekitar 70 persen dari investasi disimpan dalam dollar Amerika Serikat. (B15) Selasa, 10 Juni 2003.

Source :Bandung

Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Publikasi

+ Index