KBUMN

Sinergi Membangun Negeri

Jumat, 25 April 2014

|Visi Kementerian BUMN “Menjadi Pembina BUMN yang Profesional untuk meningkatkan nilai BUMN” |                                          SMS Kritik & Saran tentang BUMN dan Kementerian BUMN ke 08111-188-188|                                                                                                                Hati Hati dengan penipuan yang mengatasnamakan Pejabat Kementerian BUMN dalam proses pengadaan barang dan jasa. Kementerian BUMN tidak pernah meminta pungutan biaya apapun melalui surat,telepon maupun sms, dalam proses maupun pemenang pengadaan Barang dan Jasa

BEJ Minta Laporan Keuangan Telkom

10 November 2003

Kebijakan Pembagian Dividen Akan Berubah
JAKARTA (Suara Pembaharuan) – Bursa Efek Jakarta (BEJ) akan meminta manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) untuk menetapkan laporan keuangan 2002 hasil audit Kantor Akuntan Publik (KAP) Eddy Pianto atau PricewaterhouseCooper (PwC) yang akan dijadikan acuan bagi investor di dalam negeri.
Menurut Direktur Utama BEJ, Erry Firmansyah, permintaan itu disebabkan ada perbedaan cukup signifikan karena dalam audit ulang laporan keuangan 2002 Telkom yang sedang dilakukan PwC, diperkirakan laba bersih akan berkurang antara empat hingga 20 persen.
“Telkom perlu menetapkan laporan keuangan mana yang akan digunakan karena hal itu akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang terkait dengan keuangan, seperti pembagian dividen kepada pemegang saham,” kata Erry di sela-sela acara peresmian Asosiasi Analis Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (7/11).
Dia mengatakan, sampai saat ini pihak BEJ dan Bapepam masih menerima laporan keuangan Telkom tahun 2002 yang diaudit Eddy Pianto karena menilai proses auditnya tidak bertentangan dengan peraturan pasar modal di dalam negeri.
Namun jika hasil audit ulang laporan keuangan yang dilakukan PwC sesuai permintaan US SEC atau Bapepam Amerika Serikat ternyata memiliki perbedaan signifikan, pihaknya perlu meminta ketegasan dari manajemen Telkom untuk menentukan laporan apa yang akan digunakan sebagai acuan bagi investor.
“Kalau nanti Telkom memutuskan akan menggunakan laporan keuangan hasil audit PwC, maka harus diadakan RUPS luar biasa untuk mengesahkan laporan keuangan tersebut, sekaligus membatalkan laporan keuangan hasil audit Eddy Pianto,” ujar Erry.
Dia melanjutkan, kalau nantinya laba bersih Telkom terkoreksi seperti perkiraan PwC dan Telkom memutuskan menggunakan hasil audit PwC, maka kebijakan pembagian dividen kepada pemegang saham juga akan berubah. Namun yang berubah hanya persentasi pembagian dividen dari total laba bersih, sedangkan nominal yang diterima pemegang saham kemungkinan tidak akan berubah.
“Laba bersihnya kan, sudah dibagi ke pemegang saham. Masa mau ditarik kembali. Jadi kemungkinan persentase dividen dari laba bersihnya yang akan disesuaikan. Makanya kita tunggu hasil final auditnya untuk mengetahui berapa penurunan laba bersih Telkom. Kalau cuma empat persen, itu tidak signifikan,” ujar Erry.
Seperti diketahui, Telkom telah membagikan dividen tunai tahun buku 2002 kepada pemegang saham sebesar Rp 331,16 per saham pada 12 Juni 2003. Total dividen tersebut mencapai Rp 3,338 triliun atau sekitar 40 persen dari laba bersih 2002 yang mencapai Rp 8,345 triliun. Pemerintah memiliki 51,19 persen saham Telkom dan investor publik lebih dari 30 persen.
Penyesuaian
Mengenai proses audit ulang laporan keuangan 2002, manajemen Telkom kembali mengumumkan pengunduran dari batas waktu yang ditetapkan pada 30 Oktober 2003.
Hasil audit Telkom laporan keuangan tahun 2002 belum dapat selesai hingga ak-hir Oktober 2003. Proses ini masih berlanjut dan memerlukan waktu sekitar empat bulan lagi karena masih ada beberapa penyesuaian yang dilakukan oleh PwC dengan perseroan, juga dengan Hans Tuanakotta &Mustafa dan DTT yang merupakan auditor laporan keuangan Telkom tahun 2000 dan 2001,” kata Corporate Secretary Telkom, Woeryanto Soeradji, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (7/11).
Menurut dia, ada empat penyesuaian utama yang dilakukan dalam audit ulang laporan keuangan Telkom tahun 2002. Pertama, adanya penambahan pencadangan untuk perumahan dan transportasi untuk karyawan yang sudah bekerja beberapa tahun.
Kedua, pencadangan untuk dana pensiun dan tunjangan kesehatan bagi karyawan yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun. Ketiga, pencadangan terhadap pajak yang belum dibayarakan yang disesuaikan dari tahun 2000 sampai 2002.
Keempat, masalah penyesuaian konsolidasi mengenai pembelian pramindo ikat, di mana dalam audit ulang laporan keuangan Telkom 2002 merefleskikan pramindo ikat yang sudah dibeli 100 persen (lunas). Sebelumnya yang dibuat oleh KAP Eddy baru 50 persen.
“Dalam audit ulang laporan keuangan 2002, Telkom tidak lagi mencadangkan biaya untuk sengketa Aria West yang awalnya dicadangkan Rp 500 miliar,” ujar Woeryanto.
Berdasarkan penyesuaian-penyeseuaian tersebut, lanjutnya, PwC memperkirakan laba bersih Telkom pada 2002 akan turun dengan kisaran empat persen sampai 20 persen, sedangkan dividen juga turun antara tiga persen hingga lima persen.
Dia menambahkan, PwC juga meminta manajemen Telkom untuk melakukan audit ulang terhadap laporan keuangan 2000 dan 2001 yang dilakukan HTM dan DTT karena akan berdampak pada molornya penyelesaian audit lapkeu FY02 hingga 3-4 bulan mendatang.
Saham
Sementara itu, adanya pengumuman manajemen Telkom mengenai audit ulang laporan keuangan 2002 yang kembali molor dari waktu yang direncanakan, menimbulkan sentimen negatif investor terhadap saham perusahaan telekomunikasi BUMN itu.
Pada penutupan perdagangan Jumat, saham Telkom ditutup di level Rp 5.850, atau turun Rp 300 (4,88 persen). Sentimen negatif terhadap saham Telkom membuat Indeks Harga Saham Bagungan (IHSG) juga ditutup turun 6,074 poin ke levbel 626,737.
Menurut analis Ciptadana Sekuritas, Eddy Widjojo, sentimen negatif terhadap saham Telkom masih akan dilakukan investor pada perdagangan pekan depan, selama tidak ada corporate action atau berita positif dari perseroan. Meski demikian, dia menilai secara fundamental saham Telkom masih bagus dan tetap pantas dikoleksi.
“Untuk jangka pendek, investor akan melancarkan sentimen negatif terhadap saham Telkom. Tapi kalau ada berita positif dan stimulus dari pihak-pihak tertentu, saham Telkom tidak akan terkoreksi lebih dalam lagi,” kata Eddy.
Mengenai kasus laporan keuangan Telkom, Eddy mengatakan, manajemen tidak memberikan informasi yang merata dan akurat, sehingga investor belum memperoleh kejelasan mengenai laporan tersebut.
Dia menilai, masalah Telkom juga tidak sesederhana yang diperkirakan semula, yakni akibat audit yang dilakukan oleh auditor yang tidak berkompeten, tetapi juga merembet pada hasil audit laporan keuangan 2000 dan 2001 oleh HTM dan DTT.
“Kalau manajemen Telkom tidak segera memberi penjelasan, hal ini akan berdampak negatif bagi pergerakan saham karena investor akan memilih untuk mengalihkan investasi ke saham lain,” ujar Eddy. (J-9)

Source :Jakarta

Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Publikasi

+ Index