KBUMN

Sinergi Membangun Negeri

Kamis, 24 April 2014

|Visi Kementerian BUMN “Menjadi Pembina BUMN yang Profesional untuk meningkatkan nilai BUMN” |                                          SMS Kritik & Saran tentang BUMN dan Kementerian BUMN ke 08111-188-188|                                                                                                                Hati Hati dengan penipuan yang mengatasnamakan Pejabat Kementerian BUMN dalam proses pengadaan barang dan jasa. Kementerian BUMN tidak pernah meminta pungutan biaya apapun melalui surat,telepon maupun sms, dalam proses maupun pemenang pengadaan Barang dan Jasa

NPL Bank BUMN Naik, Laba Bersih Turun Rp1 Triliun

26 Juli 2005

Media, 26 juli 2005
Kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank BUMN pada semester I 2005 dipastikan mengalami kenaikan, akibat
diterapkannya Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang Penilaian kualitas aktiva bank umum.

Direktur Utama BNI Sigit Pramono dan Direktur Utama BRI Sofyan Basyir mengatakan itu, kemarin, di Jakarta. Menurut Sigit Pramono, NPL BNI akan melampaui ketentuan BI yaitu maksimal 5%. Sedangkan Sofyan Basyir secara lebih rinci mengatakan bahwa ada kenaikan NPL Rp400 miliar di BRI, akibat diterapkanya PBI 7/2/2005.

“NPL BNI memang mengalami kenaikan yang signifikan. Kalau keuntungan otomatis akan berkurang jika dibandingkan dengan posisi Semester I 2004,” katanya.

Penurunan laba bersih tersebut, menurut Sigit, terjadi akibat adanya peningkatan pencadangan karena penurunan kolektibilitas kredit.

Adapun, laba bersih bank umum pada periode Mei 2005 mengalami penurunan Rp1,041 triliun dibandingkan dengan periode sama 2004. Turunnya laba bersih bank umum diakibatkan pendapatan bunga bersih pada semester I 2005 yang turun.

“NPL akan naik, di atas ketentuan BI yaitu maksimum 5%, baik NPL gross maupun nett. Tapi kami akan mengelola hal itu sampai akhir tahun. Insya Allah masih bisa kami kelola,” kata Sigit.

Lebih lanjut Sigit mengungkapkan bahwa pihaknya tidak menyalahkan adanya PBI 7/2/2005 sebagai pemicu meningkatnya NPL. “Faktanya ada beberapa kredit kecil dan menengah di BNI, yang keadaannya memburuk.”

Mengenai angka pasti kenaikan NPL BNI dan besarnya penurunan laba bersih, Sigit berjanji akan mengumumkannya pada pekan ini.

Adapun PBI No 7/2/2005 yang mulai diterapkan sejak Januari 2005 memuat beberapa perubahan seperti soal penggolongan debitur. Untuk debitur kurang lancar, yang pengklasifikasian sebelumnya ialah mereka yang menunggak pembayaran bunga antara 90-180 hari, sekarang diubah menjadi mereka yang menunggak antara 90-120 hari.

Untuk debitur yang diragukan, ialah mereka yang menunggak pembayaran bunga antara 120-180 hari. Sebelumnya, yang masuk kategori ini ialah debitur yang menunggak antara 180-270 hari. Sedangkan yang tergolong debitur macet, mereka yang memiliki tunggakan lebih dari 180 hari. Sebelumnya untuk klasifikasi macet ialah yang menunggak lebih dari 270 hari.

Target kredit

Selain pembengkakan NPL dan anjloknya laba bersih, Sigit juga menyatakan bahwa angka ekspansi kredit di BNI belum seperi yang diharapkan dalam target. “Target yang kami perhitungkan tidak tercapai semester ini,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama BRI, Sofyan Basyir. Bank BRI akan mengalami kenaikan NPL pada semester I 2005 sebesar Rp400 miliar. Namun kenaikan itu tidak menyebabkan NPL BRI melebihi ketentuan BI.

“Kenaikan NPL BRI hanya Rp400 miliar, itu khusus yang terkait dengan PBI 7/2/2005. Kecil sekali kalau dibandingkan total kredit BRI yang sebesar Rp70 triliun. Total NPL BRI secara keseluruhan masih di bawah 5%, yaitu sekitar 2%,” kata Sofyan.

Sofyan mengakui, sejak BRI direkapitalisasi oleh pemerintah, BRI tidak lagi banyak menangani kredit korporasi. Karenanya, portofolio kredit korporasi relatif kecil di BRI.

“Kredit BRI hanya kecil dan menengah saja yang ada, sehingga secara langsung tidak memberikan beban yang berarti kepada kenaikkan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif) BRI,” tambahnya.

Selanjutnya, Sofyan memaparkan bahwa sampai dengan Juni 2005, BRI mencatat adanya kenaikan dana masyarakat. “Pertumbuhan BRI masih sesuai dengan rencana, yakni 15%-20%. Mengenai laba, dibandingkan dengan tahun lalu masih naik sedikit, sekitar 10%.”

Diakuinya, BRI juga menurunkan selisih (spread) bunga dari 10% menjadi sekitar 9%. “Karena itu, tahun ini laba tidak terlalu maksimum, tapi kami tetap menjaga kualitas,” tambahnya. (Sam/E-5)

Source :Media

Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Publikasi

+ Index